Logo Bloomberg Technoz

Pasar saham RI sejauh ini telah menjadi salah satu bursa ekuitas dengan kinerja terburuk di Indonesia. Rupiah bahkan sempat ambles menembus level terlemah sejak Krisis 1998.

Keputusan bank-bank investasi asing yang memangkas peringkat investasi saham maupun surat utang di Indonesia, juga mengemuka di tengah kekhawatiran yang meningkat akan prospek ekonomi Indonesia.

Langkah Presiden Prabowo Subianto merealokasi anggaran negara, disusul dengan pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara, serta rencana menggeber program 3 Juta Rumah, menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran. Menurut analis Goldman, tiga hal itu berpotensi memperlebar defisit fiskal.

"Kini kami melihat ruang yang terbatas untuk kinerja yang lebih baik dari aset fixed income," kata Kenneth Ho dan Sandra Yeung, Ahli Strategi Goldman Sachs dalam laporan yang dilansir Jumat lalu.

Obligasi tenor panjang akan cenderung tertekan akibat kenaikan risiko fiskal dan potensi penambahan suplai surat utang di pasar, menurut Goldman.

"Sebagai tambahan, kami percaya investor perlu menimbang untuk memakai credit default swap [CDS] tenor 5 tahun [untuk mengimbangi] risiko investasi," kata analis Goldman.

Sementara bagi saham, Ahli Strategi Goldman Sachs Timothy Moe menggarisbawahi pelemahan pendapatan korporasi dan keketatan likuiditas perbankan sebagai tambahan tekanan pada pasar.

Keterlambatan pelaporan perkembangan keuangan negara, APBNKita, juga telah menaikkan tanda tanya investor akan kondisi keuangan RI setelah berbagai kebijakan besar Prabowo.

Pada perdagangan Senin siang (10/3/2025), IHSG tertekan 0,6% di level 6.600, ketika rupiah melemah di kisaran Rp16.327/US$. Sementara yield SUN bergerak variatif di mana tenor 2Y turun 0,9 basis poin, akan tetapi tenor 1Y naik 4,5 basis poin.

Sedangkan tenor 5Y dan 10Y masing-masing naik 0,7 basis poin sampai siang ini, seperti ditunjukkan data OTC Bloomberg.

(red)

No more pages