Logo Bloomberg Technoz

Dalam ekonomi konvensional, sistem keuangan sering kali tidak beriringan dengan sektor riil, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekonomi.

Ilustrasi Pinjaman Online (Pinjol). (Envato/DragonImages)

“Kalau ekonomi konvensional itu konsepnya begini (menggunakan gestur tangan), ada saatnya nanti akan bubbles dan burst ke bawah, pecah. Nah, kalau ekonomi syariah ini beriringan dengan sektor riil, jadi tidak ada yang dizalimi, karena apapun juga itu revenue sharing atau profit sharing, bagi hasil. Kalau untung dibagi untung, rugi dibagi rugi. Tidak ada yang dizalimi,” ujar Tito menjelaskan perbedaan fundamental ekonomi syariah dan konvensional.

Meskipun ekonomi syariah menawarkan solusi yang lebih adil, peran pemerintah tetap diperlukan dalam mendukung UMKM agar lebih mudah mengakses modal tanpa riba.

“Jauhnya ketimpangan antara pemerintah dan rakyat itu sangat jauh. Sepertinya awang-awang terus program-program pemerintah untuk memberdayakan UMKM. Karena apa? Bank mengelola UMKM sekian ribu, kementerian ini mengelola UMKM binaan 5.000 juga, jadinya tumpang tindih, tidak ada database yang jelas,” ungkapnya.

Menutup diskusi, Tito mengajak masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk lebih memahami dan menerapkan prinsip ekonomi syariah dalam bisnis mereka.

“Ayo belajar syariah! Syariah itu keren, tidak ada yang bikin kalian hina karena belajar syariah. Justru kalian mulia di hadapan Allah dengan memahami prinsip ekonomi yang benar. Jangan overthinking, jangan bergantung sama makhluk, rezeki itu datang dari Allah,” tutupnya.

Dengan meningkatnya kesadaran terhadap ekonomi syariah, diharapkan lebih banyak UMKM yang dapat bangkit tanpa harus terjebak dalam jeratan utang berbasis riba.

Jangan lewatkan diskusi inspiratif ini yang akan membuka wawasan baru tentang peran ekonomi syariah dalam membangun ekosistem bisnis yang lebih adil dan berkelanjutan.

Saksikan Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark hanya di www.bloombergtechnoz.com.

(btp)

No more pages