Setia menjelaskan pergantian manajemen pada PT GNI pada awal tahun ini turut memengaruhi kebijakan pemilihan pemasok bijih nikel untuk smelter milik perseroan.
Manajemen yang baru, lanjutnya, memiliki preferensi yang berbeda dengan manajemen yang lama terkait dengan spesifikasi bijih nikel untuk diolah di smelter PT GNI.
Perbedaan tersebut yang pada akhirnya membuat perusahaan mengalami disrupsi di lini produksinya, bukan karena adanya gangguan keuangan yang membuat perseroan menunda pembayaran bijih nikel ke pemasok.
“Sebenarnya bukan menunda ya. Akan tetapi, isunya memang manajemen lama dan manajemen baru ini berbeda opini terhadap [pemilihan pemasok] raw material ini,” tutur Setia.
Manajemen lama PT GNI, sebut Setia, sudah berkontrak dengan pemasok bijih nikel. Akan tetapi, bijih tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh manajemen yang baru.
“Jadi sebenarnya bukan tidak membayar, tetapi [manajemen yang baru] ingin memastikan bahwa seharusnya raw material yang diterima itu sesuai dengan spek yang mereka inginkan,” terang Setia.
“Itu akar permasalahannya. Jadi bukan tidak membayar. Memang manajemen yang baru memilih untuk material yang baru, yang mereka targetkan selesai Juli nanti lah itu.”
Bloomberg sebelumnya mengutip berbagai narasumber yang menyebut PT GNI telah menunda pembayaran pada pemasok sehingga tidak dapat memperoleh bijih nikel untuk diolah smelter-nya.
Jika situasi berlanjut, menurut sumber-sumber tersebut, perusahaan kemungkinan akan segera menghentikan produksinya.
Gunbuster, yang mampu mengolah 1,8 juta ton bijih kasar nikel per tahun, juga disebut telah menutup semua kecuali beberapa dari lebih dari 20 jalur produksinya sejak awal tahun, kata para sumber itu.
Selain akibat tekanan harga nikel yang terus turun, bisnis PT GNI dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usahanya di China, Jiangsu Delong, akibat gagal bayar utang.
Pada akhir Februari, manajemen PT GNI pada mengatakan perusahaan memang sedang menghadapi masa transisi.
Namun, manajemen menegaskan operasional perusahaan tetap berjalan seperti biasa selama perubahan manajemen operasional yang sedang berlangsung di tengah beberapa isu yang berkembang.
-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(wdh)
































