Logo Bloomberg Technoz

"Bila nilai tukar rupiah makin terdepresiasi hingga 5% atau di Rp17.000/US$, kemungkinan ada revisi pendapatan jadi turun sebesar 2,5% dari skenario dasar kami 5% pada tahun 2025. Meski demikian, sensitivitasnya menunjukkan paparan korelasi yang lebih rendah dibanding satu dekade lalu di mana setiap pelemahan rupiah 1% akan berdampak -1% pada pertumbuhan EPS," kata Henry Wibowo, Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan, yang dikutip hari ini. 

Secara terpisah, JP Morgan memperkirakan lingkungan suku bunga lebih tinggi lebih lama, higher for longer. Dengan tim ekonomi di bawah Pemerintahan Donald Trump, analis memprediksi hanya akan ada dua kali pemangkasan bunga The Fed tahun ini. 

Prediksi itu lebih sedikit dibanding perkiraan pada Oktober yang mencapai empat kali pemangkasan Fed fund rate. BI juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level saat ini yakni di 5,75%.

"Kami perkirakan volatilitas IHSG akan berlanjut dalam jangka pendek dan kami lebih memilih nama-nama defensif dan berkualitas," kata Henry. 

Berikut analisis lengkap JP Morgan:

  • Dampak langsung pelemahan rupiah terhadap pendapatan perusahaan telah berkurang dibanding satu dekade lalu. Berdasarkan analisis JP Morgan, memakai sampel 50 perusahaan yang tercatat di IHSG dan terpapar dolar AS dari pendapatan, COGS dan utang; depresiasi rupiah sebesar 1% berdampak negatif terhadap pendapatan sebesar 0,5%. Hasil itu relatif moderat bila dibanding 10 tahun lalu di mana pelemahan rupiah 1% berarti penurunan pendapatan hingga 0,8%-0,9%. Perubahan positif itu sebagian besar karena banyak perusahaan yang mengurangi eksposur utang dolar AS atau secara aktif melakukan lindung nilai terhadapnya. 
  • Properti: Sektor properti yang pada 5-10 tahun lalu memiliki utang besar dalam dolar AS,  namun kini sudah mengurangi eksposur hingga 20% dari utang yang ada.
  • Pertambangan: Sektor pertambangan bisa memperoleh manfaat dari pendapatan terkait dolar AS dibanding biaya terkait dalam rupiah. Pilihan utama JP Morgan adalah UNTR.
  • Latar belakang situasi makro ekonomi yang menantang, membebani pendapatan dan arus dana. Dolar yang lebih kuat dan ekspektasi bunga lebih tinggi bisa memangkas kepercayaan konsumen dan likuiditas sistem.
  • JP Morgan memperkirakan pertumbuhan pendapatan sebesar 5% untuk tahun 2025, turun dari sebelumnya diperkirakan 10% pada riset Desember 2024. Itu akibat revisi pendapatan negatif oleh analis JP Morgan. Selain itu, rotasi global dari emerging market ke developed market di tengah ketidakpastian makro dan geopolitik juga berdampak pada pasar saham RI. Sejak Trump terpilih lagi pada 6 November lalu, arus keluar modal asing bersih mencapai US$ 1,7 miliar. Pada 2025, tren berlanjut dengan arus keluar US$ 290 juta. Faktor-faktor itu secara keseluruhan menyebabkan revisi pendapatan yang lebih rendah sekaligus membatasi pemeringkatan berulang kali.
  • JP Morgan menyarankan agar investor tetap selektif. Meski prospek tampak cukup menantang, saham Indonesia kini diperdagangkan di P/E yang tidak terlalu tinggi yakni kurang dari 12x (lebih dari 2 standar deviasi di bawah rata-rata). JP Morgan percaya, ada banyak peluang untuk bottom-up approach dan penentuan waktu pasar yang taktis.

(riset)

No more pages