Logo Bloomberg Technoz

Setelah pengumuman dari Gedung Putih pada Jumat, indeks S&P 500 yang semula menguat berbalik melemah 0,5%, sementara dolar AS melonjak terhadap mata uang utama lainnya dan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik dua basis poin. Bitcoin juga mengalami penurunan tajam.

Lonjakan dolar sebagian besar didorong oleh spekulasi bahwa tarif baru akan meningkatkan tekanan inflasi, mempertahankan suku bunga AS tetap tinggi, serta memperburuk kondisi ekonomi negara-negara lain dibandingkan dengan AS. Mata uang asing tertekan karena permintaan AS terhadap barang impor yang lebih mahal diperkirakan akan menurun.

Para investor kini bersiap menghadapi pergerakan besar di pasar saham, terutama di sektor-sektor yang paling terdampak perang dagang. Indeks saham UBS Group AG yang berisi perusahaan-perusahaan berisiko terkena dampak tarif turun hampir 4% pada Jumat karena kekhawatiran bahwa kebijakan ini akan meningkatkan inflasi dan menekan keuntungan perusahaan.

Perusahaan otomotif seperti General Motors Co dan Stellantis NV, yang memiliki rantai pasok global dan eksposur besar terhadap Kanada serta Meksiko, berpotensi mengalami penurunan signifikan. Produsen kendaraan listrik seperti Tesla Inc dan Rivian Automotive Inc juga diperkirakan akan terdampak. Sementara itu, penggunaan kata "tarif" dalam laporan keuangan perusahaan semakin meningkat, menunjukkan kekhawatiran yang meluas di kalangan pelaku pasar.

"Kekhawatiran terbesar bagi pasar berisiko adalah respons cepat dari Kanada," ujar Chris Weston, Kepala Riset di Pepperstone Group, Melbourne. "Kini perhatian pasar tertuju pada China, yang memiliki dampak lebih besar terhadap ekonomi global. Meski sudah ada indikasi bahwa China akan membalas, detail langkah-langkah mereka masih belum jelas."

Di Asia pada Senin (03/02/2025), investor akan mencermati data penjualan ritel Australia untuk menilai daya beli konsumen serta kemungkinan pelonggaran kebijakan Bank Sentral Australia. Selain itu, indeks manufaktur Caixin China juga akan menjadi sorotan guna mengukur kondisi ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Di sektor komoditas, harga minyak akan diawasi ketat setelah AS menerapkan tarif lebih rendah, yaitu 10%, pada impor energi dari Kanada.

(bbn)

No more pages