Logo Bloomberg Technoz

Atas kejadian ini, pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

"Tentunya dalam hal ini kita menyadari dan memahami sudah menjadi kedaulatan dan otoritas Malaysia untuk menegakkan hukum, tapi di sisi lain kami menyayangkan adanya insiden hingga menimbulkan korban jiwa," tega Judha.

Kemenlu RI mendesak pemerintah Malaysia untuk memastikan apakah penggunaan kekuatan oleh aparat APMM sesuai dengan prosedur yang berlaku atau jika terdapat indikasi penggunaan kekuatan yang berlebihan (excessive use of force).

Saat ini, keempat WNI yang mengalami luka tembak tengah dirawat di rumah sakit di Malaysia.

"Kita memang belum diizinkan bertemu dengan mereka. Indikasi diberikan akses pada hari Rabu, akses [bertemu] dan saat itulah kami akan melakukan verifikasi identitas dan kemudian dalam informasi kejadian [kepada] para WNI tersebut," pungkasnya.

Pada kesempatan berbeda, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mendesak pemerintah Malaysia untuk mengusut penembakan yang dilakukan oleh APMM terhadap lima WNI pekerja migran tersebut.

"KemenP2MI mendesak pemerintah Malaysia untuk segera mengusut peristiwa ini dan mengambil tindakan tegas terhadap petugas patroli APMM apabila terbukti melakukan tindakan yang melibatkan penggunaan kekuatan berlebihan atau excessive use of force," kata Wamen P2MI Christina Aryani dalam keterangannya di Jakarta.

Christina menambahkan bahwa KemenP2MI berkomitmen untuk memberikan bantuan hukum dan dukungan bagi keluarga korban, termasuk pemulangan jenazah. KemenP2MI kini tengah melacak asal daerah para korban untuk memastikan pendampingan bagi keluarga mereka.

Selain itu, KemenP2MI telah berkoordinasi dengan Kemenlu RI dan Atase Kepolisian di KBRI Kuala Lumpur untuk mendorong akses kekonsuleran agar dapat menjenguk para korban yang sedang dirawat.

Pemerintah Indonesia juga akan mendorong diadakannya pertemuan dengan pemerintah Malaysia guna membahas langkah-langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.

(prc/del)

No more pages