Stagnannya gerak rupiah pagi in berlangsung ketika 'pesta' di pasar saham terjegal. IHSG dibuka naik 0,11% namun dengan cepat berbalik tergerus lemah 0,25%.
Sedangkan di pasar surat utang, pergerakan harga obligasi negara bervariasi. Beberapa tenor terutama tenor panjang masih melanjutkan penurunan imbal hasil, indikasi kenaikan harga. Yaitu tenor 10 tahun yang kini di 7,15%, lalu tenor 15 tahun kini di 7,27% dan tenor 20 tahun kini di 7,35%. Tenor 2 tahun juga turun ke 7,00%.
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melemah, dengan laju pelemahan yang sudah terbatas di kisaran sempit. Koreksi terdekat adalah menuju Rp16.380/US$ yang menjadi level support pertama. Sedangkan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.400/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah makin jauh menuju Rp16.410/US$ sampai dengan Rp16.450/US$ sebagai support terkuat.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level Rp16.340/US$ dan selanjutnya Rp16.300/US$.
Pasar negara berkembang mendapat angin segar lanjutan setelah data inflasi CPI Amerika yang melegakan pasar. Adalah pernyataan pejabat The Fed yang menjadi pangkalnya.
Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan pada CNBC, bahwa The Fed bisa menurunkan suku bunga lagi pada paruh pertama tahun 2025 apabila data inflasi AS terus membaik. Ia juga tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan pemotongan suku bunga pada Maret.
"Data inflasi AS Desember sesuai dengan yang diperintahkan 'dokter' untuk menyembuhkan pasar dari ketakutan FOMC baru-baru ini," kata Damian McIntyre, Portfolio Manager di Federated Hermes, dilansir oleh Bloomberg. "Kami memperkirakan inflasi akan terus turun secara tahunan dalam beberapa bulan pertama tahun 2025."
(rui)






















