Logo Bloomberg Technoz

Indonesia kini tengah mempertimbangkan pemangkasan kuota penambangan nikel dalam jumlah besar karena berupaya mendongkrak harga yang tengah merosot, lapor Bloomberg.

Negara yang merupakan salah satu produsen utama nikel dunia itu tengah berupaya menurunkan jumlah bijih nikel yang diizinkan untuk ditambang pada 2025 menjadi 150 juta ton, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena pembahasannya bersifat tertutup.

Target tersebut akan menjadi penurunan tajam dari 272 juta ton tahun ini.

Nikel — yang mencapai puncaknya di atas US$100.000 per ton pada 2022 selama periode short squeeze yang terkenal — mengalami tren penurunan sekitar 8% tahun ini.

Hal itu sebagian disebabkan oleh gelombang pasokan baru yang sebelumnya diharapkan dari Indonesia dan perlambatan penjualan kendaraan listrik.

Tiga Sentimen

Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memaparkan tiga tantangan yang akan memengaruhi harga nikel, selaku komoditas mineral logam andalan ekspor Indonesia, pada 2025.

Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional Indef, mengatakan prospek harga nikel dalam jangka pendek kemungkinan bakal tertekan karena tiga faktor utama.

Sampel ore nikel./Bloomberg-Carla Gottgens

Pertama, masalah struktural berupa ketidaksimbangan pasar lantaran terjadi oversupply nikel kelas 1 (battery grade) di tingkat global.

“Produksi Indonesia-China, padahal, terus meningkat dan diproyeksikan mencapai 75% pangsa pasar dunia dalam 5 tahun ke depan,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz.

Kedua, pelemahan permintaan nikel dari sektor industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). 

Imaduddin menyebut porsi nikel dalam industri baterai EV kemungkinan hanya mencapai 15% dari total permintaan dunia. Hal ini salah satunya dipicu pergeseran teknologi ke baterai lithium ferro phosphate (LFP), terutama di China.

“Di sisi lain, permintaan nikel untuk industri baja nirkarat atau stainless steel dari China—selaku importir terbesar nikel RI — diproyeksikan melambat, dan hanya mencakup ⅔ dari total permintaan nikel menjelang 2025,” terangnya.

Ketiga, indikator harga nikel terkini menunjukkan adanya tren pelemahan dengan harga di LME untuk kontrak tiga bulan hanya mencapai US$16.316/ton pada Oktober 2024, terendah sejak September tahun lalu.  

Meski beberapa produsen nikel mulai memangkas produksi dan menunda proyek baru karena tekanan harga, dampak dari tindakan ini kemungkinan belum cukup mengimbangi tekanan dari oversupply dan pelemahan permintaan.

“Hal ini membuat harga nikel diperkirakan bergerak stagnan atau datar [pada 2025], dengan kecenderungan melemah dalam beberapa waktu ke depan,” kata Imaduddin.

(wdh)

No more pages