Logo Bloomberg Technoz

Bitcoin menembus level tertinggi sepanjang sejarah sejak awal tahun hingga mencapai US$73.798 (sekitar Rp1,15 miliar) pada 14 Maret, kemudian jatuh terdalam hingga US$61,251,96 (sekitar Rp955,53 juta) enam hari berselang.

Namun pada 25 Maret, telah harga berbalik arah menjadi US$66.939,67 (sekitar Rp1,04 miliar). Dalam catatan Bloomberg, sepanjang tahun  (year to date), Bitcoin masih mencatat surplus harga 50%.

Baca Juga: Harga Bitcoin Sempat Drop 15% Jadi Rp955 Jutaan

Gejolak Bitcoin pekan lalu dipengaruhi sentimen jelang  keputusan hasil pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Open Market Committee (FOMC), yang berakhir tingkat bunga yang tidak berubah.

Menurut riset analis Panji Yudha dari Ajaib Kripto posisi Buy The Dip atas Bitcoin harus diputuskan dengan cermat. Anda harus mengetahui kapan BTC berada di area support.

Buy The Dip “untuk mendapatkan harga rata rata kepemilikan BTC yang rendah dan potensi memiliki jumlah Bitcoin lebih banyak, guna mempersiapkan potensi reli yang  akan berlanjut hingga tahun 2025 nanti.”

Kenapa Buy The Dip di Bitcoin Penting?

Dengan membeli Bitcoin dengan strategi Buy The Dip, Anda mendapatkan “harga diskon” untuk kemudian menyimpannya dalam jangka panjang. Penting untuk membekali diri dengan kemampuan analisis teknikal dan fundamental sebelum memutuskan Buy The Dip di Bitcoin.

Profil Investor yang Cocok Terapkan Buy The Dip

Adalah Anda yang punya orientasi jangka panjang atas investasi. Pun demikian dengan instrumen Bitcoin. Dalam jangka panjang para penggemar alternatif uang fiat ini percaya, nilainya akan terus naik.

Katalis halving bulan April, yaitu pemangkasan biaya atas penambangan digital menjadi setengah, akan mendorong kenaikan harga. Pasalnya pasokan koin yang ditambang akan semakin terbatas, di sisi lain imbal hasilnya juga terus mengecil.

Perjalanan Bitcoin dan periode halving. (Dok: Bloomberg)

Cermat Tentukan Waktu Membeli

Strategi Buy The Dip juga berarti Anda tidak punya ekspektasi mendapatkan keuntungan dalam tempo singkat. Ingat, pilih koin dengan fundamental terbaik dari banyaknya pilihan di bursa exchanger dan momentum harga support.

Anda bisa menentukan batas support, karena level ini tidak memiliki acuan. Tiap investor memiliki batasan “diskon” harga, bisa 20%, 30%, atau lebih.

Untung Rugi Strategi Buy The Dip di Bitcoin

Berinvestasi dengan strategi ini artinya membeli Bitcoin yang harapannya dalam jangka panjang menciptakan capital gain. Dip, artinya Anda sudah menentukan koin pilihan, dengan tren kinerja yang terus naik di masa mendatang.

Pastikan Anda memiliki dana likuid yang besar, karena sebagian investasi tidak mungkin ditarik dalam jangka pendek. Keuntungan Buy The Dip juga menghindari Anda mengeluarkan modal besar karena membelinya pada area resistance.

Masih ada risiko rugi, misalkan harga Bitcoin ternyata kembali turun. Saat hal itu terjadi maka portofolio Anda langsung negatif. Namun jika masih percaya Bitcoin suatu saat nanti kembali rebound, sebagian investor mengkombinasikan dengan strategi dollar cost averaging (DCA) — membeli aset digital secara rutin dalam jumlah tepat dalam rentang waktu tertentu.

Dengan harga justru turun atau sideways, Anda bisa kehilangan potensi keuntungan investasi pada instrumen lain pada waktu yang sama. Atau bahkan tren terus naik, hingga Dip tidak bisa dilakukan saat pasar bullish.

(wep)

No more pages