Logo Bloomberg Technoz

Tanpa panggilan darurat, jalur penerbangan yang diketahui, dan tidak adanya puing, MH370 tetap menjadi misteri terbesar penerbangan modern. Sementara penyelidik hanya menemukan sedikit petunjuk, satu hal yang pasti. Sebuah pesawat tidak boleh hilang seperti ini lagi.

Namun 10 tahun kemudian, menurut amandemen peraturan yang mencatat proses tersebut, dorongan di seluruh industri untuk memastikan kasus serupa tak terjadi lagi telah dihambat oleh birokrasi, tekanan keuangan, dan perdebatan tentang siapa yang seharusnya memiliki kontrol penuh atas kokpit.

Alat pelacak pesawat yang diusulkan oleh pihak berwenang Malaysia beberapa pekan setelah insiden tersebut masih belum diimplementasikan. Meskipun industri penerbangan telah menghemat ratusan juta dolar dalam biaya peralatan, masih ada kekurangan dalam protokol keselamatan penerbangan. Artinya, pesawat terbang bisa kembali hilang selamanya.

Saat pencarian terkait MH370 berakhir sia-sia, sebuah peraturan keselamatan tambahan yang dipelopori oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) mengusulkan agar pesawat-pesawat baru mengungkap posisinya setiap menit jika berada dalam masalah. Tujuannya adalah untuk memberi peringatan dini kepada pihak berwenang tentang insiden yang sedang terjadi. Jika pesawat kemudian jatuh, tim penyelamat setidaknya punya kesempatan untuk menemukan lokasi jatuhnya pesawat.

Namun kenyataannya tidak seperti itu. Aturan pelacakan tiap menit telah dua kali ditunda. Awalnya, aturan ini akan diberlakukan pada Januari 2021, namun kini baru dikatakan baru akan dimulai pada Januari 2025. Bloomberg News bertanya pada puluhan maskapai penerbangan di AS, Eropa, Timur Tengah, dan Asia tentang berapa banyak pesawat dalam armada mereka yang sudah memenuhi persyaratan dari ICAO. Dari maskapai yang menjawab, hanya sedikit pesawat yang memenuhi persyaratan.

Air France, yang memiliki lebih dari 250 pesawat per September, mengatakan tujuh pesawat jetnya (semuanya Airbus SE A350) telah memenuhi standar. Korea Air Lines Co mengatakan tiga dari 159 pesawatnya dilengkapi dengan alat pelacak. Sementara Japan Airlines Co mengatakan dua dari 226 pesawatnya telah dilengkapi dengan teknologi tersebut.

Penumpang mengantre di loket layanan Japan Airlines di Bandara Haneda di Tokyo, Jepang, Selasa (2/1/2023). (Kentaro Takahashi/Bloomberg)

Hassan Shahidi, presiden dan kepala eksekutif Flight Safety Foundation yang mempromosikan standar keselamatan penerbangan, mengatakan penundaan aturan keselamatan sejak hilangnya MH370 tidak dapat diterima.

"Ini adalah sebuah tragedi, dan solusi telah dikembangkan. Sengat penting bagi kita untuk mengambil langkah terakhir ini," kata Shahidi.

Selain terlambat bertahun-tahun, standar pelacakan yang baru hanya berlaku untuk pesawat baru. Tidak ada persyaratan untuk memasang teknologi yang relevan pada lebih dari 20.000 pesawat tua yang beroperasi pada tahun lalu. Artinya, ribuan pesawat akan terbang selama beberapa dekade, mengangkut jutaan penumpang di seluruh dunia, tanpa kemampuan yang dianggap penting setelah MH370 menghilang.

Rintangan terkait teknologi menjadi salah satu alasan dari penundaan tersebut. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS merekomendasikan sistem pelacakan "anti-rusak" pada pesawat pada 2015. Namun Administrasi Penerbangan Federal (Federal Aviation Administration/FAA) menunda-nunda keputusannya. 

FAA mengatakan hal itu tidak dapat dilakukan tanpa mengorbankan kendali pilot atas semua sistem, yang dianggap sebagai andalan protokol keselamatan penerbangan. Karena pilot harus menjadi pihak yang mengambil keputusan akhir atas pesawat dalam keadaan darurat.

Peran Kapten MH370, Zaharie Ahmad Shah, telah menjadi fokus utama dari misteri ini. Menurut urutan kejadiandalam laporan akhir, pesawat sengaja meninggalkan rute yang direncanakan ke utara ke arah China, berputar kembali di atas Malaysia dan menuju laut. Pesawat ini berlayar ke selatan selama sekitar enam jam dan kemungkinan jatuh di Samudra Hindia bagian selatan ketika kehabisan bahan bakar.

Para ilmuwan berhasil memetakan secara kasar rute pesawat nahas tersebut dengan mempelajari koneksi per jamnya dengan satelit yang berada 36.000 kilometer di atas bumi. Meskipun yang dilakukan oleh para ilmuwan adalah hal yang luar biasa, hal ini menghasilkan potensi zona kecelakaan yang sangat besar. Sebuah armada pencarian internasional mensurvei 710.000 kilometer persegi dasar laut, dipersulit dengan palung dan terumbu karang, sebelum pada akhirnya dihentikan pada 2017. Upaya baru pada tahun berikutnya oleh perusahaan eksplorasi laut Ocean Infinity juga tidak membuahkan hasil.

Detail forensik yang disertakan dalam laporan setebal 450 halaman terkait tragedi tersebut menunjukkan nomor kursi, jenis kelamin, dan kebangsaan para penupang. Di bagian kursi kelas ekonomi hampir penuh dengan penumpang. Ada dua anak duduk di kursi 17F dan 18F, sementara satu anak lainnya di kursi 30 H. Ada dua bayi di dalam pesawat tersebut. Di bagian belakang, ada empat baris yang terpisah. Dua orang warga negara Iran bepergian dengan paspor Eropa yang dicuri.

Sementara di kelas bisnis, hanya sepertiga kursi terisi. Sebagian besar dari 10 penumpang duduk di dekat jendela. Sepuluh pramugari yang melayani para tamu semuanya berasal dari Malaysia. Sementara mayoritas penumpang merupakan warga negara China. 

Tepat setelah pukul 1 pagi, penerbangan tersebut berada di ketinggian 35.000 kaki. Sekitar 20 menit kemudian, MH370 keluar dari kontrol lalu lintas udara Malaysia dengan transmisi suara terakhir kali.

Para penyelidik mengatakan ada kemungkinan seseorang mematikan sistem komunikasi pesawat. Namun, mereka tidak dapat menyimpulkan secara pasti. Tim tersebut "tidak dapat menentukan penyebab sebenarnya dari hilangnya MH370," kata mereka.

Laporan tersebut juga menyerukan kepada komunitas penerbangan internasional bahwa mereka "perlu memberikan jaminan kepada publik yang menggunakan jasa mereka bahwa lokasi pesawat komersial dapat selalu diketahui. Hal yang sebaliknya tidak dapat diterima."

Aturan pelacakan setiap satu menit dirancang untuk mengatasi titik buta tersebut. Tujuannya, untuk menentukan lokasi kecelakaan dalam radius enam mil laut.

Mike Poole, kepala eksekutif APS Aerospace Corp, mengatakan hal itu masih belum cukup baik. Dengan satelit yang menjangkau hampir setiap jengkal planet ini, Poole ingin semua penerbangan komersial dapat mengirimkan posisi dan data penting lain secara konstan lewat sistem yang tahan terhadap gangguan. Dia menambahkan, seharusnya bukan jadi masalah apakah pesawat dalam masalah atau tidak.

"Jika terjadi pesawat hilang, Anda tidak hanya tahu di mana pesawat itu berada, Anda juga mendapatkan banyak informasi instan," kata Poole, yang bekerja di Badan Keselamatan Transportasi Kanada selama lebih dari 20 tahun dan memimpin laboratorium perekam penerbangan. "Anda mungkin bisa tahu apa yang terjadi pada MH370."

Wisatawan di Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand, Senin (25/9/2023). (Valeria Mongelli/Bloomberg)

Menemukan pesawat hilang merupakan hal yang penting. Memahami penyebab insiden di masa lalu merupakan hal yang penting untuk mencegah bencana kembali terjadi di masa depan. FAA memiliki perpustakaan online yang dikhususkan untuk mempelajari hal-hal yang bisa diambil dari berbagai kecelakaan selama beberapa dekade.

Setelah MH370 hilang pada 2014, kesibukan terjadi di Asosiasi Transportasi Udara Internasional. kelompok perdagangan maskapai penerbangan itu membuat sebuah gugus tugas untuk menyusun proposal pemantauan penerbangan yang lebih ketat. Boeing, Airbus, ICAO, badan PBB yang menjadi pusat penetapan standar penerbangan, semua diikutsertakan.

Salah satu hasil dari pekerjaan awal ini adalah persyaratan bagi pesawat penumpang besar dan baru yang bermasalah untuk mengungkap posisi mereka setidaknya sekali dalam satu menit mulai 1 Januari 2023.

Memenuhi tenggat waktu tersebut merupakan hal yang di luar jangkauan sektor ini. Dalam pengajuan empat halaman ke ICAO pada tahun 2019, pihak berwenang Australia mengklaim bahwa telah terjadi "kurangnya koordinasi dan berbagi informasi" antara ICAO dengan entitas pencarian dan penyelamatan. Aturan pelacakan setiap satu menit kemudian ditunda hingga 2023 karena virus corona menghentikan perjalanan udara. Pandemi membuat ratusan pesawat yang baru dibuat dan belum terkirim diletakkan di gudang penyimpanan. Aturan pelacakan ini pun ditunda hingga 2025.

Pengajuan aturan pada 2022 oleh Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency/EASA) menjelaskan keuntungan finansial dari penundaan kedua. Dokumen EASA mengatakan Dewan Koordinasi Internasional Asosiasi Industri Kedirgantaraan (International Coordinating Council of Aerospace Industry Associations/ICCAIA), yang mewakili para produsen pesawat, meminta penundaan tersebut kepada ICAO. EASA mengatakan perkiraan penghematan biaya bisa mencapai US$175 juta hingga US$262 juta, lebih kecil dari harga Boeing 777 baru.

Di saat yang sama, EASA mengakui teknologi untuk memproses sinyal darurat oleh jaringan satelit mengalami "penundaan yang signifikan" karena satelit yang dibutuhkan untuk memantau dunia belum sepenuhnya beroperasi. Entitas yang bertanggung jawab untuk bertindak jika ada laporan bahaya juga masih membutuhkan waktu untuk menyiapkan proses dalam menangani insiden tersebut.

ICCAIA menolak berkomentar. Seorang juru bicara Airbus menolak berkomentar tentang penundaan tersebut, dan menunggu pengajuan EASA. ICAO mengatakan dalam sebuah email bahwa "pandemi membuat semua orang mundur".

Peralatan pelacakan untuk pesawat dalam keadaan darurat mungkin suatu hari nanti akan diwajibkan pada pesawat yang berusia tua. "Tergantung pada seberapa penting dan kinerja perangkat baru tersebut," kata ICAO.

Boeing mengatakan bahwa pihaknya terus "bekerja di bawah pengawasan regulator global" tentang persyaratan untuk Sistem Keselamatan dan Gangguan Penerbangan Global.

Yang pasti, maskapai penerbangan memperketat kemampuan pelacakan mereka hingga level tertentu setelah insiden MH370. Mereka menunjukkan posisi pesawat penumpang mereka setidaknya setiap 15 menit ketika pesawat berada di atas perairan terpencil.

"Pekerjaan terkait keselamatan penerbangan tidak akan pernah usai," kata Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh. 

"Saat Anda mengalami kejadian seperti MH370, menurut saya hal ini benar-benar membuat semua orang mundur dan berkata, 'Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkinkan ini terjadi lagi?' Saya akan terkejut bila itu terjadi. Saya tidak mengatakan kemungkinannya nol, namun kemungkinannya jauh lebih kecil saat ini dibandingkan 10 tahun lalu," lanjutnya.

Produk siap pakai yang melacak penerbangan komersial secara terus menerus juga tersedia. Inmarsat dan Aireon, misalnya, menyediakan data dalam penerbangan yang mendekati waktu real-time kepada maskapai penerbangan. Mereka menggunakan jaringan satelit yang dapat terhubung dengan pesawat hampir di mana saja di seluruh dunia dengan presisi tinggi secara real time.

Artinya, situasi seperti kecelakaan Air France 447 pada 2009 secara teori tidak akan pernah terjadi lagi. Kala itu, pesawat jatuh ke Samudra Atlantik tanpa ada kecurigaan terkait kesalahan dan baru ditemukan setelah dua tahun.

ICAO menetapkan persyaratan yang jelas untuk perangkat pelacakan setiap satu menit dalam penerbangan untuk pesawat yang mengalami masalah. Alat ini harus diaktifkan dalam berbagai skenario, seperti kehilangan daya dorong. Yang terpenting, perangkat yang dipicu secara otomatis tidak bisa dimatikan secara manual.

Airbus memperkenalkan sistem pemancar pencari lokasi darurat yang memenuhi standar. Mereka telah memasangnya pada semua pesawat berbadan lebar baru yang telah dikirimkan oleh pembuat pesawat sejak April 2023.

Tidak ada kemampuan seperti itu pada Malaysia Airlines dengan penerbangan 370.

Joe Hattley, seorang ahli kecelakaan udara Australia yang bergabung dengan tim investigasi internasional di Malaysia setelah MH370 hilang, mengatakan misteri tersebut masih menyelimuti dirinya. Bahkan setelah 10 tahun. 

Meskipun insiden tersebut memiliki ciri-ciri tindakan yang disengaja, kurangnya bukti membuatnya frustrasi.

"Saya memikirkan MH370 setiap hari," kata Hattley. "Sebagai penyelidik kecelakaan, tugas Anda adalah menjawab pertanyaan, memberikan jawaban kepada keluarga, teman, dan kerabat terdekat, serta mencoba meningkatkan keselamatan. Kami belum bisa melakukan itu."

(bbn)

No more pages