Logo Bloomberg Technoz

“Tingkat konsumsi domestik belum sepenuhnya pulih saat ini seperti sebelum pandemi tak lain karena ketika terjadi wabah penurunannya cukup dalam sehingga recovery pun butuh waktu dan bertahap,” kata Ekonom LPEM UI Teuku Riefky kepada Bloomberg Technoz, Kamis (9/3/2023).

Untuk mengukur kinerja konsumsi domestik, kinerja penjualan ritel memang hanya menjadi salah satu variabel. Ada beberapa ukuran lain juga yang perlu dilihat trennya seperti  Indeks Keyakinan Konsumen, kredit konsumsi perbankan dan impor barang konsumsi.  “Sejauh ini yang mencatat tren penurunan sejalan dengan pertumbuhan tahunan Indeks Penjualan Ritel adalah impor barang konsumsi,” kata Dwi Widodo, Ekonom Samuel Asset Management. 

Kinerja impor Januari 2023 (Dok. BPS)

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor barang konsumsi pada Januari 2023 tercatat turun hingga 11,64% dibandingkan Desember 2022, meski masih tumbuh 1,09% secara tahunan. Adapun Indeks Keyakinan Konsumen masih bertahan di zona optimistis di atas 100. BI mencatat, Februari 2023, posisi indeks berada di level 122,4 kendati menurun dari posisi Januari di angka 123. 

Melihat berbagai variabel itu, Dwi cenderung melihat tingkat konsumsi domestik saat ini masih berada di fase pemulihan di mana lajunya memang tidak secepat beberapa bulan lalu ketika masih ada pengaruh low-base effect dari pandemi. “Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tingkat konsumsi domestik masih akan melambat,” ujar Dwi. 

Belanja online

Bila melihat sisi historis, pertumbuhan tahunan Indeks Penjualan Ritel, menunjukkan tren menurun sejak 2014. Namun, itu tidak inheren dengan capaian pertumbuhan konsumsi yang terefleksi dalam Produk Domestik Bruto (PDB). “Pertumbuhan konsumsi dalam PDB tidak menunjukkan tren perlambatan dan tetap mampu tumbuh di kisaran 5% sampai periode sebelum pandemi,” jelas ekonom.

Menurut Dwi, perlu penelaahan lebih dalam dalam survei bank sentral tersebut apakah Indeks Penjualan Ritel sudah memasukkan belanja ritel secara online atau belum mengingat hampir satu dekade belakangan ini terjadi perubahan struktural dalam belanja masyarakat menyusul tren online shopping

“Bila memang demikian [belum memasukkan online shopping], mungkin saja konsumsi domestik kita sebenarnya sudah kembali seperti sebelum pandemi akan tetapi tidak tecermin di perbaikan pertumbuhan IPR-nya,” jelas Dwi.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, pada 2022 ekonomi digital mencatat nilai sebesar US$ 77 miliar atau setara Rp 1.188,88 triliun disokong oleh terus tumbuhnya pengguna internet di Indonesia yang mencapai 77% dari total jumlah penduduk Indonesia. Nilai ekonomi digital diprediksi akan terus melesat menembus US$ 130 miliar atau setara Rp 2.007,2 triliun pada 2025. 

“Pemilu Effect”

Para analis optimistis, tingkat konsumsi domestik akan membaik tahun ini kendati perekonomian global masih menghadapi perlambatan buntut dari perang tiada henti melawan inflasi yang memicu bunga tinggi. Riefky memprediksi, pada semester 1-2023 konsumsi pulih seperti sebelum pandemi menyusul dampak pukulan kenaikan harga BBM yang diprediksi juga mereda. 

Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) setelah dua tahun terjeda akibat pandemi, menurut Dwi, akan menjadi pendorong pemulihan konsumsi lebih cepat disusul multiplier effect dari belanja logistik hajat Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. 

Data historis menunjukkan, tingkat konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) pada kuartal-kuartal jelang Pemilu 2014 lalu mencetak pertumbuhan lebih dari 23% year-on-year. Begitu juga pada Pemilu 2019 di mana LNPRT mampu tumbuh di atas 16% secara tahunan. “Menurut saya, dampak kedua katalis itu akan mulai terasa pada semester II-2023,” ucap Dwi.

Prakiraan pertumbuhan penjualan ritel di berbagai daerah di Indonesia (Dok. Bank Indonesia)

Gambaran saja, untuk penyelenggaraan Pemilu 2024, nilai anggaran yang disepakati oleh Pemerintah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan DPR-RI mencapai Rp 76,6 triliun. Anggaran itu digunakan untuk membiayai aktivitas kampanye baik offline dan online, logistik Pemilu, biaya fasilitas kampanye peserta pemilu oleh negara melalui KPU, biaya distribusi suara, dan lain sebagainya. Nilai total ekonomi penyelenggaraan Pemilu bisa berlipat jauh lebih besar dari itu.

Dalam survei yang dirilis Kamis siang tersebut, BI memprakirakan penjualan eceran pada Februari 2023 akan meningkat secara tahunan, tecermin dalam Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 2,6% kendati secara bulanan diperkirakan masih turun sebesar -1,4%.

Kuartal 1-2023, BI memprakirakan kinerja penjualan eceran tetap tumbuh 1% secara tahunan walau masih melambat dibanding kuartal IV-2022 yang masih tumbuh 1,9% year-on-year

Penjualan ritel akan terdongkrak datangnya musim perayaan (Dok. Bank Indonesia)

Adapun tekanan inflasi diprakirakan akan naik pada April 2023, menyusul datangnya bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri. Indeks Ekspektasi Harga Umum pada April 2023 tercatat sebesar 145,1, naik dibanding Maret di posisi 139,1. Pada kedatangan bulan perayaan, responden juga memperkirakan penjualan eceran pada April bakal meningkat setelah itu sedikit melandai dan akan melesat lagi pada Juli menyusul kedatangan musim liburan. 

(rui)

No more pages