Logo Bloomberg Technoz

SLIK yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan, memperluas cakupan iDeb mulai dari perbankan, multifinance dan lembaga keuangan non-bank lain seperti Pegadaian, fintech dan lain sebagainya. Semua data debitur (nasabah yang pernah atau sedang memiliki utang pada lembaga), tercatat di sana dan akan selalu diakses oleh penyedia pinjaman sebelum mengucurkan utang pada seseorang.

SLIK juga bisa dipakai untuk melaporkan, fasilitas penyediaan dana, data agunan dan data terkait dari berbagai jenis lembaga keuangan, masyarakat, Lembaga Pengelolaan Informasi Perkreditan (LPIP) dan pihak lainnya. OJK menyebut, dengan SLIK yang terintegrasi, masyarakat bisa lebih mudah memproses pengajuan pinjaman. Selain itu, SLIK juga diharap bisa meminimalisasi angka kredit bermasalah. 

Dalam database SLIK, ada 5 tingkatan skor kredit yang penting untuk diperhatikan dan akan menjadi referensi pemberi pinjaman dalam menganalisis kelayakan kredit seseorang. Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, 5 tingkatan skor kredit tersebut antara lain:

  • Kolektibilitas 1 "Lancar": Bila Anda selaku debitur selalu tepat waktu membayar pokok utang berikut bunga, perkembangan rekening baik serta tidak ada tunggakan utang apapun, skor Anda adalah Kol 1. Ini adalah skor tertinggi dan akan memudahkan Anda mendapatkan pinjaman bila suatu saat membutuhkan.
  • Kolektibilitas 2 "Dalam Perhatian Khusus": Bila Anda pernah menunggak pembayaran pokok utang atau bunga antara 1-90 hari, maka Anda masuk kategori ini. Bila Anda masuk kategori ini dan mengajukan utang baru, pemberi pinjaman akan lebih ketat meloloskan pengajuan tersebut.
  • Kolektibilitas 3 "Kurang Lancar": Bila Anda pernah menunggak pembayaran pokok utang atau bunga pinjaman antara 91-121 hari. Dengan skor kredit Kol 3, pemberi pinjaman akan berpikir ulang meloloskan pengajuan kredit Anda.
  • Kolektibilitas 4 "Diragukan": Bila Anda pernah menunggak pembayaran pokok atau bunga mulai 121-180 hari, skor Anda adalah Kol 4. Jangan harap bisa mendapatkan kredit atau pinjaman dengan skor ini.
  • Kolektibilitas 5 "Macet": Bila Anda pernah menunggak pembayaran pokok dan bunga hingga lebih dari 180 hari, maka skor Anda adalah kredit macet. Dengan skor ini, Anda tidak akan mendapatkan pinjaman.

Utang Bukan Hal Remeh

Utang, sekecil apapun apakah untuk hal remeh atau besar, tetaplah utang, harus dibayar sesuai perjanjian. Otoritas Jasa Keuangan mengungkapkan fenomena gagalnya anak muda mendapatkan KPR akibat masih ada tunggakan utang Paylater yang nilainya relatif kecil tak sampai Rp500.000, memperlihatkan ada kecenderungan anak muda kurang menyadari konsekuensi dari menunggak cicilan.

"Saat ini semua berhubungan, bila ada masalah di satu sisi itu akan berdampak ke sisi lain. Jangan sampai utang yang [nilainya] kecil membuat kita kehilangan kesempatan dan kepercayaan di hal yang lebih besar dan lebih penting," kata Eko.

Bila melihat tahapan finansial seseorang, usia muda ketika seseorang baru membangun karir dan memiliki pendapatan sendiri, seharusnya menjadi masa menata pondasi keuangan pribadi yang sehat. Mulai dari memiliki dana darurat, melengkapi kebutuhan asuransi pribadi, sampai memulai pembelian aset-aset dasar seperti rumah dan selanjutnya memulai investasi untuk kebutuhan di masa depan (future spending).

Ada beberapa kebutuhan di masa depan di mana seseorang kemungkinan membutuhkan fasilitas pinjaman dari bank. Misalnya, untuk pembelian rumah pertama yang terlalu berat bila ditempuh secara tunai, maka seseorang akan perlu mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) terutama pada bank.

Begitu juga bila hendak memiliki mobil pertama, mungkin juga membutuhkan kredit kendaraan bermotor (KKB). Terlebih bila di masa mendatang berniat mengembangkan usaha dengan bantuan permodalan dari bank, riwayat kredit yang 'bersih' adalah syarat mutlak.

Kesemua itu bisa tertutup ketika nama seseorang tercantum dalam kelompok kredit bermasalah di SLIK.

Berikut beberapa tips penting dari perencana keuangan agar keputusan berutang, termasuk berutang melalui Paylater, tidak menjadi boomerang yang fatal dan mengancam masa depan keuangan Anda:

1. Penuhi Kebutuhan, Bukan Keinginan

Sebelum memutuskan memakai Paylater atau berutang memakai fasilitas pinjaman konsumtif lain seperti pinjaman online hingga kartu kredit, pastikan Anda melakukannya untuk kebutuhan alih-alih demi memenuhi keinginan impulsif belaka.

Utang memiliki konsekuensi yang panjang, bukan hanya memengaruhi keuangan Anda saat ini melainkan juga berdampak pada kondisi finansial di masa mendatang.

2. Utang Tidak Gratis

Utang atau pinjaman selalu mengenakan biaya yang biasa disebut dengan istilah "bunga". Untuk Paylater misalnya, bunganya bisa 2,95% untuk tenor 30 hari.

Bila tenor cicilan lebih panjang, biayanya berbeda lagi. Ada juga aplikasi Paylater yang mengenakan biaya langganan. Belum lagi biaya-biaya lain seperti biaya layanan, denda keterlambatan dan lain sebagainya. Biaya bunga bisa berlipat ganda ketika tagihan tidak segera dilunasi. 

Pastikan Anda menghitung lebih dulu apakah belanja atau pembelian itu sepadan memakai Paylater atau lebih baik dipenuhi dengan uang tunai sendiri saja.

3. Kemampuan Membayar

Keuangan yang sehat memiliki rasio utang yang kecil. Dalam perencanaan keuangan, salah satu indikator kesehatan keuangan adalah debt to service ratio (DSR) di mana angkanya tidak boleh melebihi 30%. Artinya, beban cicilan utang yang Anda miliki tidak boleh memakan lebih dari 30% pendapatan rutin.

Misalnya, Anda memiliki pendapatan rutin Rp10 juta, maka perencana keuangan menyarankan, beban cicilan semua utang mulai dari utang kartu kredit, KPR, utang pinjol hingga Paylater maksimal memakan Rp3,2 juta pendapatan. Lebih kecil akan lebih sehat dan aman bagi keuangan Anda.

4. Pikirkan Konsekuensi Jangka Panjang

Setiap Anda memakai fasilitas pinjaman utang dari sebuah institusi keuangan apakah itu bank, multifinance, pergadaian sampai fintech dan Paylater, itu akan tercatat dalam SLIK OJK. Riwayat pinjaman juga catatan histori pembayaran apakah lancar atau tidak, kesemuanya akan terekam di sana dan menjadi referensi bagi lembaga keuangan lain.

Anak muda yang masih memiliki banyak tujuan keuangan ke depan seperti persiapan biaya menikah, pembelian rumah pertama, dan lain-lain, sebaiknya berhati-hati sebelum memutuskan memakai Paylater. Jangan sampai keputusan impulsif berbelanja memakai Paylater tanpa kesiapan disiplin dan kemampuan membayar, membuat skor kredit Anda buruk dan menghalangi pengajuan kredit di masa mendatang.

(rui/aji)

No more pages