Infrastruktur digital dan telekomunikasi berbasis AI menjadi salah satu fokus pembahasan dalam forum tersebut. Pengembangan teknologi ini membutuhkan dukungan berbagai elemen, termasuk infrastruktur pusat data, konektivitas, pasokan energi, serta ekosistem investasi yang saling terintegrasi.
Danantara Dorong Pengembangan Infrastruktur AI Nasional
Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia, Irwan Rei, mengatakan pengembangan infrastruktur AI nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, setiap pihak memiliki kemampuan berbeda yang dapat saling melengkapi untuk mempercepat pembangunan ekosistem teknologi di Indonesia.
Danantara berupaya mengorkestrasi keterlibatan BUMN, penyedia infrastruktur, mitra teknologi, hingga ekosistem investasi. Pendekatan tersebut diharapkan memastikan pembangunan infrastruktur AI tidak berhenti pada penyediaan fasilitas teknologi, tetapi juga menghasilkan pemanfaatan dan nilai tambah ekonomi.
“Pengembangan infrastruktur AI dalam skala nasional membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dengan capability yang berbeda namun saling melengkapi. Peran Danantara Indonesia adalah membantu mengorkestrasi BUMN, infrastructure providers, technology partners, dan investment ecosystem sehingga pengembangan teknologi tidak berhenti pada infrastruktur, tetapi memiliki jalur menuju adoption, utilization, dan penciptaan nilai bagi ekosistem nasional,” jelas Irwan.
Kolaborasi tersebut juga mencerminkan pentingnya integrasi antara pengembangan teknologi dan kesiapan infrastruktur dasar. Pembangunan pusat data berskala besar tidak hanya membutuhkan investasi pada perangkat komputasi, tetapi juga pasokan energi yang mampu menopang operasional secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, PLN memiliki posisi strategis sebagai penyedia energi untuk mendukung pertumbuhan industri digital. Kesiapan infrastruktur ketenagalistrikan menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan Indonesia dalam menarik investasi dan mengembangkan pusat data berkapasitas besar.
Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar, menegaskan perusahaan berkomitmen menyiapkan infrastruktur ketenagalistrikan yang andal untuk mendukung perkembangan industri pusat data di Indonesia.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan listrik seiring perkembangan teknologi digital harus diantisipasi melalui perencanaan sistem kelistrikan yang adaptif dan terintegrasi. Dengan demikian, pertumbuhan industri digital dapat berjalan tanpa mengabaikan keandalan pasokan listrik nasional.
“Pertumbuhan industri data center di Indonesia membutuhkan dukungan listrik yang tidak hanya besar, tetapi juga andal dan stabil. Untuk itu, diperlukan perencanaan dan kesiapan infrastruktur kelistrikan yang mampu mengikuti perkembangan proyek. Melalui kolaborasi ini, PLN siap menjajaki skema penyediaan infrastruktur kelistrikan yang sesuai kebutuhan, dengan tetap memperhatikan aspek reliability, scalability, dan sustainability,” ujar Suroso.
Kapasitas Pusat Data Indonesia Berpotensi Tembus 11 GW
Kebutuhan penguatan infrastruktur listrik tersebut sejalan dengan prospek pertumbuhan industri pusat data nasional. Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) mencatat kapasitas pusat data Indonesia berada di kisaran 1 gigawatt (GW) per Mei 2026.
Kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat hingga 11 GW pada 2030. Proyeksi ini menunjukkan besarnya peluang pengembangan industri pusat data di Indonesia sekaligus tantangan dalam menyiapkan infrastruktur pendukung.
Peningkatan kapasitas pusat data akan berdampak langsung terhadap kebutuhan energi. Selain pasokan listrik untuk mengoperasikan perangkat komputasi, fasilitas tersebut membutuhkan sistem pendingin dan konektivitas yang memadai agar operasional dapat berlangsung secara optimal.
Kebutuhan listrik yang besar dan stabil menjadi salah satu karakteristik utama industri pusat data. Gangguan pasokan energi berpotensi memengaruhi operasional fasilitas, sehingga kesiapan jaringan dan sistem ketenagalistrikan menjadi pertimbangan penting bagi investor maupun pengelola pusat data.
Karena itu, penyediaan listrik untuk industri ini memerlukan perencanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap proyek. Aspek kapasitas pasokan, keandalan jaringan, kemampuan pengembangan, hingga keberlanjutan sumber energi menjadi bagian dari pertimbangan dalam membangun infrastruktur digital.
Di sisi lain, pemanfaatan energi bersih juga menjadi perhatian dalam pengembangan pusat data. Seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, penggunaan energi yang lebih berkelanjutan diharapkan dapat membantu menekan dampak lingkungan dari pertumbuhan industri digital.
Melalui kerja sama dengan Telkom, PLN membuka peluang penyediaan solusi energi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan infrastruktur digital. Kolaborasi tersebut sekaligus memperkuat keterhubungan antara sektor ketenagalistrikan dan industri telekomunikasi.
Telkom Integrasikan Pusat Data dan Ekosistem Energi
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan pengembangan AI membutuhkan fondasi infrastruktur yang mampu mendukung kebutuhan komputasi dalam skala besar. Oleh karena itu, pembangunan pusat data dan konektivitas perlu diintegrasikan dengan sektor energi serta kawasan industri.
Menurutnya, pengembangan ekosistem AI tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan model dan aplikasi teknologi. Infrastruktur pendukung yang kuat diperlukan untuk memastikan teknologi tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal.
“Pengembangan AI tidak hanya membutuhkan model dan aplikasi, tetapi juga fondasi infrastruktur yang mampu mendukung kebutuhan komputasi dalam skala besar. Melalui kolaborasi ini, TelkomGroup ingin menghubungkan capability data center dan konektivitas dengan kekuatan ekosistem energi, kawasan industri, AI, dan cloud agar dapat mendukung pengembangan sovereign AI infrastructure Indonesia secara lebih terintegrasi,” ujar Nanang.
Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi pengembangan infrastruktur AI nasional. Ketersediaan pusat data, jaringan telekomunikasi, energi, dan layanan komputasi awan (cloud) menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem teknologi yang kompetitif.
Pengembangan sovereign AI infrastructure juga berkaitan dengan upaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam membangun dan memanfaatkan teknologi AI secara mandiri. Ketersediaan infrastruktur di dalam negeri menjadi salah satu faktor pendukung bagi pengembangan layanan digital dan pemanfaatan data nasional.
Sebagai tindak lanjut kesepakatan, PLN dan Telkom bersama pihak terkait akan membahas lebih lanjut lingkup pekerjaan, kebutuhan teknis, skema investasi, pengaturan komersial, serta mekanisme implementasi.
Pembahasan tersebut akan disesuaikan dengan peran dan tata kelola masing-masing pihak. Pengembangan kerja sama selanjutnya juga akan mengacu pada hasil kajian serta kesepakatan definitif yang disepakati bersama.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari langkah PLN dalam memperluas dukungan terhadap kebutuhan energi sektor digital. Penyelarasan antara kesiapan pasokan listrik, pembangunan pusat data, dan infrastruktur telekomunikasi diharapkan dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam menarik investasi teknologi.
Dengan proyeksi peningkatan kapasitas pusat data hingga 11 GW pada 2030, kesiapan infrastruktur energi akan menjadi salah satu faktor penting dalam merealisasikan potensi industri tersebut. Sinergi PLN, Telkom, dan Danantara diharapkan mampu membangun fondasi infrastruktur AI nasional yang andal, terintegrasi, dan berkelanjutan.
(tim)































