Logo Bloomberg Technoz

“Selanjutnya, rencana penambangan bijih berkadar tinggi dari tambang emas bawah tanah akan memungkinkan kami untuk dapat terus meningkatkan produksi emas di tahun 2027 dan 2028,” kata Agoes.

Selain Agoes, lima direksi BRMS lainnya ikut memborong saham perseroan selama 18 bulan terakhir. Secara keseluruhan, Direksi BRMS memegang sekitar 23 juta lembar saham perseroan sampai pertengahan tahun ini.

Perseroan menyatakan pembelian tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek kinerja BRMS.

Namun, harga saham BRMS justru terus mengalami tekanan setelah rangkaian pembelian tersebut.

Mengutip data perdagangan, saham BRMS berada di level Rp444 pada 21 Oktober, sebelum turun menjadi Rp432 pada 23 Oktober dan Rp426 pada 26 Oktober.

Pada 27 Oktober, harga saham berada di level Rp398, bertepatan dengan pembelian ketiga Agoes.

Hingga perdagangan 6 November 2026, saham BRMS tercatat di level Rp308. Dengan demikian, harga saham telah terkoreksi sekitar 30,6% dibandingkan level Rp444 pada 21 Oktober.

Sementara dibandingkan rata-rata harga pembelian Agoes sebesar Rp425,49/saham, harga BRMS pada level Rp308 berada sekitar 27,6% lebih rendah.

Dibayangi MSCI

Di tengah aksi akumulasi tersebut, saham BRMS juga menghadapi risiko perubahan segmen dalam indeks MSCI.

Dalam riset yang dikutip Bloomberg Technoz pada 4 November 2026, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan BRMS berpeluang besar mengalami penurunan segmen dari MSCI Global Standard ke MSCI Small Cap pada peninjauan indeks November.

Mirae memperkirakan ambang harga untuk mempertahankan posisi BRMS di MSCI Global Standard berada di sekitar Rp440 per saham.

Pergerakan IHSG setelah konsultasi reklasifikasi indeks MSCI. (Bloomberg)

Namun, selama periode observasi 19–30 Oktober, saham BRMS hanya ditutup di atas level tersebut pada satu dari 10 hari perdagangan.

Pada akhir periode observasi, harga BRMS berada di level Rp332, atau sekitar 24,5% di bawah ambang harga tersebut.

Hasil peninjauan indeks MSCI November 2026 dijadwalkan diumumkan pada 12 November waktu Indonesia, dengan perubahan konstituen berlaku efektif mulai 1 Desember 2026.

Risiko tersebut muncul ketika MSCI juga membuka konsultasi terkait usulan reklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.

MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya bukti penegakan aturan yang dinilai memadai.

Kinerja BRMS

Dari sisi fundamental, BRMS mencatat penurunan laba pada sembilan bulan pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$23,94 juta, turun 36,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$37,91 juta.

Penjualan perseroan juga turun 8,72% secara tahunan menjadi US$167,58 juta dari US$183,58 juta. Penjualan emas berkontribusi sebesar US$161,94 juta, sedangkan penjualan perak mencapai US$5,64 juta.

Meski demikian, kinerja BRMS menunjukkan perbaikan secara kuartalan pada periode Juli–September 2026. Pendapatan kuartal III mencapai US$71,79 juta, meningkat dari US$26,32 juta pada kuartal II.

Perseroan juga membukukan laba bersih US$11,01 juta setelah mencatat rugi bersih US$4,78 juta pada kuartal sebelumnya.

Dari sisi operasional, penjualan emas BRMS pada kuartal III mencapai 16.748 ons, meningkat dari 6.301 ons pada kuartal II.

Namun, secara kumulatif, penjualan emas sembilan bulan pertama 2026 mencapai 37.839 ons, lebih rendah dibandingkan 56.552 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan kinerja kuartal III didukung kenaikan kadar emas bijih yang diproses menjadi rata-rata 1,94 gram per ton (g/t), dibandingkan 0,90 g/t pada kuartal II. Perusahaan mengaitkan perbaikan tersebut dengan selesainya kegiatan pushback di tambang emas terbuka Poboya.

BRMS juga tengah mengembangkan tambang emas bawah tanah di Palu. Perseroan menargetkan mulai menambang bijih berkadar emas di atas 3,2 g/t dari tambang bawah tanah tersebut pada pertengahan 2027.

Selain itu, peningkatan kapasitas salah satu pabrik pengolahan emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

(fik/naw)

No more pages