Prospek penerapan tarif tersebut sebelumnya sempat menjaga harga tembaga di AS tetap tinggi dan memperketat pasar global dengan menarik volume dalam jumlah besar ke cadangan AS. Selisih harga tersebut kini menyusut pekan ini.
"Banyak trader meyakini penerapan tarif agresif terhadap tembaga kini lebih kecil kemungkinannya karena Partai Demokrat menguasai Kongres AS, mengingat keterjangkauan harga menjadi titik lemah bagi partai yang berkuasa menjelang 2028," tulis TD Securities dalam catatan.
Harga tembaga turun 1,5% menjadi US$13.642 per ton di London Metal Exchange pada pukul 07.31 waktu setempat. Aluminium turun 0,6% dan seng turun 1,6%.
Risiko perlambatan sektor AI atau tidak adanya tarif telah diantisipasi oleh banyak analis, sehingga proyeksi harga tembaga cenderung hati-hati dalam beberapa bulan terakhir.
Skenario terburuk bagi tembaga—jika pemerintahan Trump secara tegas meniadakan tarif impor—meningkatkan kemungkinan arus keluar kembali ke jaringan LME.
"Ekspektasi pasar menunjukkan adanya hambatan terhadap kebijakan fiskal pemerintahan Trump, perlambatan investasi teknologi AI, pengetatan likuiditas lintas aset, serta arus keluar modal secara bersamaan dari saham teknologi maupun logam non-ferro," ungkap perusahaan pialang Tiongkok, Chaos Ternary Futures Co, dalam catatan.
Meski harga kontrak berjangka mengalami fluktuasi, kondisi pasokan di pasar fisik masih menunjukkan tingkat keketatan di beberapa sektor.
Premi tembaga domestik melonjak pada Jumat ke level tertinggi sejak data mulai dicatat pada 2015, yakni mencapai lebih dari 2.500 yuan per metrik ton, sementara premi tembaga impor naik menjadi 217,50 yuan per metrik ton.
(bbn)































