Logo Bloomberg Technoz

Tatacipta menilai kepercayaan menjadi fondasi utama dalam membangun jejaring kolaborasi. Melalui hubungan yang kuat antarpihak, perguruan tinggi dapat mempertemukan berbagai kompetensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kolaborasi tersebut dinilai semakin relevan di tengah perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Sejumlah bidang, seperti energi bersih, layanan kesehatan, kecerdasan buatan, hingga pembangunan berkelanjutan, membutuhkan pendekatan lintas disiplin agar inovasi yang dihasilkan dapat menjawab persoalan secara lebih komprehensif.

Dalam konteks sektor energi, hubungan antara perguruan tinggi dan industri juga berperan dalam mempercepat pengembangan teknologi serta penerapan inovasi. Kebutuhan terhadap sistem ketenagalistrikan yang andal dan berkelanjutan membuat penguatan riset dan kompetensi sumber daya manusia menjadi bagian penting dari agenda transisi energi.

Pengalaman Suroso di Sektor Ketenagalistrikan

Suroso menyampaikan apresiasi kepada ITB atas penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama yang diterimanya. Dia memandang penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas perjalanan profesional, melainkan juga amanah untuk terus berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan sektor energi nasional.

"Penghargaan ini merupakan kehormatan sekaligus amanah untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan transformasi sektor ketenagalistrikan nasional. Saya meyakini kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci dalam menghadirkan sistem energi yang semakin andal, berkelanjutan, dan berdaya saing," ujar Suroso.

Suroso memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun berkarier di PLN. Sepanjang perjalanan profesionalnya, dia pernah menempati sejumlah posisi strategis yang berkaitan dengan perencanaan sistem, pengelolaan operasional, teknologi informasi, hingga manajemen risiko perusahaan.

Beberapa jabatan yang pernah diembannya antara lain Vice President Perencanaan Sistem dan General Manager Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa Madura & Bali (UIP2B Jamali). Dia juga pernah menjabat sebagai Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi serta Direktur Manajemen Risiko.

Saat ini, Suroso bertugas sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN. Posisi tersebut berkaitan dengan pengelolaan proyek serta pengembangan energi baru terbarukan yang menjadi salah satu bagian penting dalam agenda transformasi sektor ketenagalistrikan.

Selain memiliki pengalaman di industri, Suroso juga mempunyai latar belakang akademik di bidang teknik elektro. Dia merupakan doktor Teknik Elektro ITB, sehingga perjalanan profesionalnya turut didukung oleh penguasaan keilmuan yang relevan dengan pengembangan sistem ketenagalistrikan.

Kombinasi pengalaman industri dan latar belakang akademik tersebut menjadi salah satu aspek yang mendukung kiprahnya dalam pengembangan inovasi. Suroso tercatat aktif mengembangkan bidang smart grid dan tata kelola risiko di sektor ketenagalistrikan.

Pengembangan smart grid menjadi salah satu bidang yang relevan dengan transformasi sistem kelistrikan. Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi dalam pengelolaan jaringan dapat mendukung peningkatan efisiensi, keandalan, serta kemampuan sistem dalam mengintegrasikan berbagai sumber energi.

Di sisi lain, penguatan tata kelola risiko diperlukan untuk memastikan pengelolaan proyek dan operasional perusahaan berjalan secara terukur. Aspek ini semakin penting seiring meningkatnya kompleksitas pengembangan infrastruktur dan perubahan lanskap industri energi.

Aktif dalam Riset dan Publikasi Transisi Energi

Kontribusi Suroso tidak hanya tercermin dari pengalaman di lingkungan korporasi. Dia juga memiliki sejumlah sertifikasi profesi internasional di bidang manajemen risiko dan keinsinyuran, antara lain QRGP, Insinyur Profesional Utama (IPU), serta ASEAN Engineer.

Sertifikasi tersebut menunjukkan kompetensi profesional yang dimilikinya dalam bidang keinsinyuran dan pengelolaan risiko. Penguasaan kompetensi tersebut menjadi bekal dalam menjalankan tanggung jawab strategis, terutama ketika perusahaan harus mengelola proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Di bidang akademik, Suroso juga produktif menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional. Topik yang diangkat mencakup transisi energi, optimasi risiko, dan integrasi energi terbarukan.

Selain publikasi ilmiah, dia turut menjadi salah satu penulis buku Risk Management: For Early Detection of Bankruptcy and Improving Firm Performance in Energy Companies serta Transisi Energi Hijau & Swasembada Energi Indonesia.

Kedua buku tersebut mencerminkan perhatian terhadap pengelolaan risiko perusahaan dan agenda pengembangan energi nasional. Manajemen risiko menjadi aspek penting bagi keberlanjutan kinerja perusahaan, sementara transisi energi berkaitan dengan upaya mengembangkan sistem energi yang lebih bersih dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Penghargaan dari ITB tersebut menjadi pengakuan atas kontribusi Suroso dalam menghubungkan pengalaman profesional, pengembangan ilmu pengetahuan, dan inovasi di sektor ketenagalistrikan. Rekam jejaknya juga memperlihatkan peran sumber daya manusia dengan kompetensi lintas bidang dalam mendukung transformasi industri energi.

Di tengah kebutuhan mempercepat transisi energi, kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan menjadi semakin penting. Sinergi tersebut dapat membuka ruang bagi pengembangan riset, penerapan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan sektor ketenagalistrikan.

Bagi PLN, penguatan inovasi dan kompetensi menjadi bagian dari upaya membangun sistem kelistrikan yang andal, efisien, dan berkelanjutan. Kontribusi profesional seperti yang ditunjukkan Suroso memperlihatkan bagaimana pengalaman industri dan keilmuan dapat saling melengkapi dalam mendukung agenda tersebut.

(tim)

No more pages