“Kalau teman-teman tahu kan ada high risk, high return. Di pasar saham mungkin return-nya akan lebih tinggi, tapi risiko juga lebih tinggi. Karena sekarang berisiko, mereka mungkin mengalihkan ke SBN,” katanya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diberitakan sebelumnya, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp96,72 triliun sepanjang tahun berjalan hingga perdagangan 26 Oktober 2026.
Aksi jual tersebut semakin deras setelah MSCI membuka konsultasi terkait potensi reklasifikasi status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.
Sejak pembukaan konsultasi tersebut hingga 26 Oktober 2026, akumulasi net sell asing mencapai Rp11,78 triliun.
Agus menilai, besarnya nett sell di pasar saham belum tentu mencerminkan keseluruhan dana asing yang keluar dari Indonesia. Pasalnya, sebagian dana yang dilepas dari saham berpotensi kembali masuk ke instrumen keuangan domestik lainnya.
“Jadi, artinya dari sisi capital net foreign sell-nya di pasar saham, sebagian masuk lagi ke SBN. Mungkin secara total foreign outflow-nya di Indonesia tidak sebesar yang tadi Rp97 triliun itu karena masih ada sebagian yang masuk kembali ke pasar,” jelasnya.
Meski demikian, Agus mengakui OJK tidak dapat menelusuri secara langsung seluruh investor akhir di balik transaksi jual bersih tersebut. Pasalnya, investor institusi global umumnya tidak melakukan transaksi secara langsung melalui bursa, melainkan menggunakan perantara perusahaan sekuritas.
“Kalau itu kami tidak terlalu nge-trace karena kan tergantung mereka. Mereka tidak melakukan transaksi langsung,” ujarnya.
Dia mencontohkan, investor seperti BlackRock bisa saja melakukan transaksi melalui perusahaan sekuritas seperti Mandiri Sekuritas atau pihak lainnya. Dengan demikian, transaksi yang tercatat di bursa merupakan transaksi perusahaan sekuritas tersebut, sehingga tidak selalu menunjukkan identitas investor akhir di baliknya.
“Yang kelihatan transaksi kan si Mandiri Sekuritas nya, yang kelihatan transaksi UBS-nya. Apakah di belakangnya itu BlackRock atau pihak lain, kita tidak terlalu bisa nge-trace,” kata Agus.
Sementara itu Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut bahwa investor asing tersebut sangat menyukai pasar Indonesia. Sebab, pasar modal di sejumlah negara kini juga tengah menghadapi banyak tantangan.
“Karena sekarang saya [investor asing] mau investasi di mana lagi, di Amerika itu terlalu risiko. Kita tahu stock marketnya mereka juga sekarang sudah besarnya 2,4 kali dari GDP [Gross Domestic Product]nya,” katanya.
(fik/spt)























