Bobot empat bank raksasa (big-4 bank) meningkat dari sebelumnya 24,33% menjadi 27,45%.
Berdasarkan estimasi, bobot PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik dari 8,75% menjadi 9%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dari 7,93% menjadi 9%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dari 5,57% ke 6,95%, serta PT Astra International Tbk (ASII) dari 3,35% naik ke 4,15%.
“Dengan komposisi baru ini, pergerakan kelompok bank big-4 akan menjadi penentu utama arah IHSG,” dikutip dari catatan BRIDS dalam, Jumat (30/10/2026).
Setiap perubahan 1% pada saham big-4 bank diperkirakan menggeser IHSG sebesar kurang lebih 14 poin dengan mengacu pada basis indeks sekitar 5.030.
Adapun, perubahan struktur indeks ini menjadikan IHSG makin mencerminkan pergerakan sektor perbankan, yang sangat erat kaitannya dengan laju nilai tukar rupiah dan arus modal asing (foreign outflow).
Meski saham-saham berkapitalisasi volatil dikeluarkan, simulasi menunjukkan tingkat volatilitas IHSG ex-HSC berada di angka 31%, sedikit lebih tinggi ketimbang volatilitas historis sebesar 29%.
Di sisi lain, price to earnings ratio (P/E) agregat IHSG diproyeksikan menurun seiring pergeseran bobot konstituen, yang berarti target IHSG berbasis rasio valuasi historis perlu dihitung ulang.
Adapun, perubahan aturan konstituen IHSG ini berlangsung di tengah dinamika pasar keuangan lokal yang masih tertekan oleh pelemahan mata uang dan keluarnya arus modal asing.
Pergerakan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.080 hingga Rp18.170 per dolar AS pada pekan terakhir Oktober 2026.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penahanan suku bunga acuan The Fed di level 3,75%–4,00%, tingginya beban kompensasi impor energi, serta lonjakan permintaan mata uang asing untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen.
Sementara itu, akumulasi net sell investor asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp126,37 triliun lewat pasar reguler.
Tekanan outflow harian masih mencatatkan rata-rata penarikan sebesar Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (29/10/2026), investor asing kembali mencetak net sell bersih sebesar Rp1,52 triliun di pasar reguler, dengan aksi pelepasan saham yang terkonsentrasi pada sektor perbankan, khususnya BBCA dan BBRI.
(smr/naw)



























