Logo Bloomberg Technoz

Di tengah ekspansi kredit, Maybank Indonesia juga mencatatkan perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loans (NPL) gross turun menjadi 2,1% dari 2,4% pada September 2025. Rasio NPL net juga membaik menjadi 1,3% dari sebelumnya 1,5%.

Perbaikan indikator kualitas aset tersebut menjadi perkembangan penting di tengah pertumbuhan kredit perseroan, karena menunjukkan peningkatan kredit berjalan bersamaan dengan penurunan rasio kredit bermasalah.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan, perseroan akan terus memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. “Kami akan terus memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Fokus pada pembangunan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan ini sejalan dengan inisiatif stratejik ROAR30 Maybank Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Pertumbuhan kredit Maybank Indonesia juga berlangsung seiring dengan peningkatan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 4,3% YoY menjadi Rp5,75 triliun. Kenaikan NII didukung oleh penurunan beban bunga serta peningkatan pendapatan bunga dari bisnis pembiayaan anak usaha.

Dari sisi pendanaan, Maybank Indonesia mencatatkan pertumbuhan giro dan tabungan atau current account and savings account (CASA) sebesar 16,7% YoY menjadi Rp79,81 triliun. Rasio CASA meningkat menjadi 64,1% dari 52,2% pada September 2025, mencerminkan semakin besarnya porsi dana murah dalam komposisi pendanaan bank.

Perkembangan pendapatan bunga dan struktur pendanaan tersebut menjadi bagian dari kinerja bisnis inti Maybank Indonesia sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pada periode ini, pendapatan operasional bruto atau gross operating income (GOI) meningkat 0,4% YoY menjadi Rp7,28 triliun, sementara laba sebelum pajak atau profit before tax (PBT) konsolidasian tercatat sebesar Rp1,43 triliun.

Selain penyaluran kredit konvensional, bisnis perbankan syariah Maybank Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 18,4% YoY menjadi Rp32,46 triliun hingga September 2026. Pada periode yang sama, Unit Usaha Syariah (UUS) membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp668 miliar, meningkat 29,4% YoY. 

Pertumbuhan pembiayaan Syariah tersebut diikuti penguatan komposisi pendanaan, CASA UUS meningkat 12,6% menjadi Rp25,58 triliun, sementara rasio CASA naik menjadi 70,8% dari 62,2% pada September 2025.

Kinerja positif juga dicatatkan sejumlah anak usaha Maybank Indonesia. Maybank Finance membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp573 miliar, meningkat 32,9% YoY, dengan total pembiayaan tumbuh 16,4% menjadi Rp8,64 triliun.

Sementara itu, WOM Finance mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp219 miliar, tumbuh 70,5% YoY, dengan total pembiayaan meningkat 4,0% menjadi Rp6,78 triliun. Di segmen bisnis perantara perdagangan efek, Maybank Sekuritas membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp223 miliar, meningkat 45,1% YoY.

Secara keseluruhan, total aset konsolidasian Maybank Indonesia tercatat sebesar Rp219,81 triliun pada akhir September 2026. Adapun, total aset Bank secara individual mencapai Rp197,90 triliun, meningkat 7,4% YoY.

Ke depan, Maybank Indonesia akan memprioritaskan penguatan kolaborasi antarentitas setelah menyelesaikan transformasi menjadi grup keuangan terintegrasi pada Agustus 2026. Langkah tersebut diarahkan untuk memanfaatkan kapabilitas berbagai lini bisnis dalam menghadirkan solusi keuangan yang lebih komprehensif bagi nasabah, sejalan dengan strategi ROAR30.

(tim)

No more pages