Sebelumnya, Korut menembakkan sejumlah rudal balistik jarak pendek pada Kamis (29/10/2026), beberapa hari setelah pemimpin negara itu, Kim Jong Un, mengunjungi China.
Peluncuran tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea terkait ledakan ranjau darat pada bulan lalu yang dituding Seoul dilakukan oleh Pyongyang.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) mengungkap sekitar 10 rudal diluncurkan dari wilayah Wonsan, Korut, menuju perairan di lepas pantai timur negara itu. Penjaga Pantai Jepang mengatakan proyektil-proyektil tersebut kemungkinan telah jatuh.
"Korea Selatan, AS, dan Jepang terus berbagi informasi secara erat terkait rudal balistik Korea Utara sembari mempertahankan kesiapsiagaan penuh," kata JCS dalam pernyataannya.
Peluncuran tersebut menyusul serangkaian uji coba rudal balistik oleh Korut dalam beberapa pekan terakhir dan menyoroti kekhawatiran keamanan di kawasan.
Kim menunjukkan keyakinan bahwa negaranya dapat terus melanjutkan uji coba senjata, meski Presiden AS Donald Trump baru-baru ini kembali membuka peluang untuk menghidupkan dialog.
Beberapa hari sebelumnya, Kim melakukan kunjungan mendadak ke China, yang menjadi lawatan keduanya ke negara tetangga tersebut dalam kurun waktu sedikit lebih dari satu tahun. Bulan depan, Trump dijadwalkan mengunjungi Shenzhen, China, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).
Trump telah meredam ekspektasi mengenai kemungkinan pertemuan langsung dengan Kim, setelah sebelumnya mengisyaratkan keinginannya untuk menggelar pertemuan tersebut tahun ini.
Uji coba rudal itu juga berlangsung di tengah perselisihan antara Pyongyang dan Seoul terkait ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada bulan lalu yang melukai tiga tentara Korsel.
Korsel telah menawarkan dialog militer dengan Korut untuk membahas insiden tersebut setelah menyimpulkan bahwa ranjau itu dipasang oleh Korut.
Hingga kini, Pyongyang belum menanggapi tawaran tersebut dan membantah keterlibatan apa pun dalam insiden itu. Korut juga menyebut hasil penyelidikan Korsel sebagai "lelucon."
(ros)






























