Obligasi Jerman dan obligasi negara-negara zona euro lainnya mencatat kenaikan tipis. Yield obligasi Jerman tenor 10 tahun turun satu basis poin menjadi 3,36%, sementara selisih imbal hasil obligasi Prancis tetap stabil di angka 154 basis poin.
Keputusan Lagarde untuk mundur memicu salah satu kontestasi kepemimpinan paling krusial di Eropa. Sosok yang terpilih nantinya akan memegang kendali atas kebijakan suku bunga bagi 21 negara anggota zona euro dengan total populasi lebih dari 350 juta jiwa.
“Untuk memastikan transisi yang lancar menuju kepemimpinan ECB berikutnya, proses penunjukan penggantinya akan dimulai hari ini dan akan dilanjutkan tanpa penundaan, dengan harapan agar Dewan Eropa dapat mengambil keputusan tepat waktu,” kata Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dalam pernyataannya.
Ketua Eurogroup, Kyriakos Pierrakakis, menyatakan pihaknya akan segera bergerak menyusun rekomendasi bagi calon presiden ECB berikutnya. Kanselir Jerman, Friedrich Merz menambahkan bahwa keputusan akhir diharapkan tercapai sebelum akhir tahun ini.
Langkah ini diambil pada masa krusial bagi ECB yang bermarkas di Frankfurt, yang tengah berjuang melawan inflasi tinggi akibat perang di Iran, di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, pasar obligasi yang gelisah, serta pengeluaran besar-besaran Eropa untuk sektor pertahanan dan infrastruktur.
Pablo Hernandez de Cos dari Spanyol dan Klaas Knot dari Belanda bersaing untuk menduduki jabatan Lagarde. Para ekonom yang disurvei Bloomberg pada Oktober memperkirakan De Cos, mantan Gubernur Bank Spanyol yang saat ini memimpin Bank for International Settlements (BIS), sebagai kandidat favorit.
Isu mengenai pengunduran diri Lagarde sudah lama berhembus. Ia berulang kali menolak berkomitmen menyelesaikan masa jabatannya yang berdurasi delapan tahun. Sementara itu, muncul spekulasi luas bahwa ia ingin memimpin World Economic Forum, organisasi penyelenggara pertemuan tahunan di Davos.
Lagarde juga sempat mengisyaratkan keinginannya untuk terlibat dalam kampanye pemilihan Presiden Prancis musim semi mendatang, meski ia menegaskan tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden.
Pernyataan samar ini membuat rekan-rekannya di ECB merasa frustrasi; beberapa pihak khawatir hal tersebut memberikan citra buruk bagi salah satu institusi ekonomi terpenting di kawasan Eropa.
“Sepanjang sejarahnya, ECB telah berhasil mengelola transisi kepemimpinan sambil terus menjalankan mandatnya,” kata Lagarde dalam memo kepada staf. “Situasi ini tidak berbeda. Saya yakin ECB akan terus melayani Eropa dengan dedikasi yang sama di masa mendatang.”
Pengumuman ini muncul di tengah kebuntuan AS dan Iran dalam mencapai kesepakatan damai yang permanen. ECB telah menaikkan suku bunga pada Juni dan September, dan pasar memperkirakan kebijakan moneter akan diperketat lebih lanjut.
Sementara itu, yield obligasi melonjak di seluruh dunia. Para investor merasa sangat cemas mengenai kondisi keuangan publik di Prancis, negara asal Lagarde. Selisih imbal hasil antara obligasi 10 tahun Prancis dan obligasi Jerman baru-baru ini mencapai level tertinggi sejak 2011, memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi ECB.
Meski Lagarde berargumen bahwa proyeksi menunjukkan inflasi akan kembali ke target sekitar akhir 2027, para kritikus menudingnya telah melanggar janji untuk tidak meninggalkan jabatannya saat situasi sedang diliputi ketidakpastian.
Sebelum Lagarde, Wim Duisenberg dari Belanda adalah satu-satunya gubernur yang tidak menyelesaikan masa jabatannya secara penuh. Namun, masa jabatannya yang dipersingkat itu telah disepakati sebelumnya untuk mengatasi kebuntuan antara Prancis dan Jerman menjelang pembentukan ECB pada 1998.
Para pemimpin Eropa akan mengadakan KTT pada November dan Desember untuk memilih penggantinya. Selain para kandidat unggulan, kandidat di luar itu tidak dapat dikesampingkan; Lagarde sendiri baru masuk dalam bursa calon pada menit-menit terakhir.
(bbn)



























