Dia mengatakan, pembatalan saham treasuri tersebut akan mengurangi jumlah saham beredar sehingga meningkatkan persentase kepemilikan pemegang saham yang ada.
Pembatalan 32 miliar saham treasuri itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) GoTo pada 14 Oktober 2026. Perseroan memperkirakan proses pembatalan akan efektif dalam 2–3 bulan mendatang setelah seluruh persyaratan regulasi selesai.
Kinerja GoTo
Di sisi kinerja keuangan, GoTo membukukan laba periode berjalan sebesar Rp441 miliar pada kuartal III-2026, berbalik dari rugi Rp255 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp557 miliar pada kuartal III-2026, dibandingkan rugi Rp196 miliar pada kuartal III-2025.
Pendapatan bersih GoTo tumbuh 17% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp5,56 triliun. Adapun EBITDA yang disesuaikan meningkat 84% YoY menjadi Rp950 miliar.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, GoTo mencatat laba periode berjalan Rp864 miliar, berbalik dari rugi Rp997 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,16 triliun, dibandingkan rugi Rp776 miliar pada Januari–September 2025.
Seiring dengan kinerja tersebut, GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk tahun penuh 2026 menjadi Rp3,5 triliun–Rp3,7 triliun, dari sebelumnya Rp3,2 triliun–Rp3,4 triliun.
Target EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis teknologi finansial GoPay juga naik menjadi Rp1,9 triliun–Rp2 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun–Rp1,8 triliun. Sementara itu, kisaran target bisnis on-demand services yang mencakup Gojek diperlebar menjadi Rp1,4 triliun–Rp1,6 triliun, dari sebelumnya Rp1,4 triliun–Rp1,5 triliun.
(dhf)





























