Menurut Hashim, penurunan nilai saham membuat banyak investor domestik tidak puas dengan kondisi pasar saat ini. Dia menilai persoalan tersebut perlu ditangani agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
“Saya diminta oleh Presiden untuk membantu Pak Rosan [Roeslani, CEO Danantara] dan kawan-kawan di pemerintah untuk mitigasi masalah yang kita hadapi dari Morgan Stanley,” ujarnya.
Hashim mengatakan, jika persoalan dengan MSCI tidak dimitigasi, sumber pendanaan bagi pasar modal Indonesia berpotensi semakin terbatas karena investor asing dapat keluar menyusul penurunan status pasar.
Dia juga menyoroti indikasi praktik perdagangan saham yang tidak sehat, termasuk saham yang disebutnya digoreng.
Menurut dia, praktik tersebut menjadi salah satu persoalan yang disoroti MSCI dan pelaku pasar asing, terutama ketika saham memiliki free float terbatas tetapi diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) yang dinilai tidak masuk akal.
“Ada indikasi memang ada praktik-praktik yang tidak sehat yang terjadi di pasar saham kita. Saya enggak usah sebut siapa, tapi ada saham-saham yang istilahnya digoreng,” kata Hashim.
Dia meminta anggota Kadin tidak terlibat dalam praktik tersebut dan mendorong penghentian aktivitas penggorengan saham. Hashim memperingatkan pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap praktik yang dinilai tidak sehat di pasar modal.
“Saya mohon kepada kawan-kawan dari Kadin, ini masalah sangat-sangat serius, karena kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah,” ujarnya.
Hashim bahkan memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp20.000-Rp21.000 per dolar AS apabila arus investasi asing keluar dari pasar saham Indonesia. Dia juga menyebut kemungkinan rupiah mencapai Rp22.000 per dolar AS.
Menurut dia, pelemahan rupiah ke level tersebut akan meningkatkan beban pembayaran pinjaman luar negeri dan berpotensi menimbulkan dampak serius bagi perekonomian Indonesia.
“Jangan sampai rupiah jadi Rp21.000, Rp22.000. Ini jadi punya dampak politik yang luar biasa negatif,” katanya.
Hashim turut menyinggung kasus di Turkiye, yang menurut dia mencatat penangkapan 94 pelaku terkait persoalan serupa oleh aparat kepolisian setempat. Dia mengingatkan agar praktik yang sama tidak berkembang di Indonesia.
Dia menegaskan, persoalan pasar modal tersebut perlu segera ditangani agar investor domestik tidak semakin dirugikan dan kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia dapat dijaga.
(fik/naw)

























