IHSG bergabung bersama Bursa Asia yang menetap di zona merah. Shenzhen Comp. (China), KOSDAQ (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), SETI (Thailand), KOSPI (Korea Selatan), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), dan KLCI (Malaysia), yang melemah masing–masing 2,81%, 2,34%, 1,42%, 1,26%, 1,24%, 1,03%, 0,82%, 0,62%, 0,59%, dan 0,17%.
Dengan demikian, IHSG adalah indeks saham dengan pelemahan terdalam dan paling ambles di Bursa Asia.
Menyitir Phintraco Sekuritas di penutupan perdagangan hari ini, IHSG ditutup melemah 3,49% di level 5.098,06 pada Kamis (29/10/2026), biarpun sempat dibuka menguat, setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan tetap pada level 3,75%–4,00%. Di sisi yang bersamaan, harga minyak Brent melemah, seiring dengan harapan investor terhadap upaya diplomatik baru untuk mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Secara teknikal, histogram MACD IHSG kembali melebar dan Stochastic RSI membentuk death cross di area pivot. Sehingga diprediksi IHSG akan menguji level psikologis 5.000 pada perdagangan Jumat (30/10/2026), analisis Phintraco Sekuritas.
Adapun RHB Sekuritas menyebut pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencatat level terendah sepanjang masa (All Time Low/ATH), serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), menjadi tekanan utama bagi pasar domestik.
“Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan depresiasi rupiah meningkatkan kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing, inflasi impor, serta biaya pendanaan,” terang RHB Sekuritas dalam catatan terbarunya, Kamis (29/10/2026).
Tekanan tersebut semakin berat di tengah ancaman dan ketidakpastian sikap MSCI terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market, dari posisi saat ini sebagai Emerging Market. Kondisi ini memicu tekanan jual investor asing yang semakin deras di pasar domestik.
(fad)




























