Logo Bloomberg Technoz

Namun, efektivitas skema ini sangat bergantung pada kepastian operasional di lapangan.

"Lokasi dan kelayakan teknis dari rencana pembangunan PLTN tersebut saat ini juga masih berada dalam tahap studi mendalam," kata Zuhdi.

Karakteristik PLTN

Zuhdi menjelaskan pemanfaatan nuklir untuk data center secara teknis sangat memungkinkan dan relevan untuk jangka panjang.

Karakteristik PLTN yang mampu menyuplai listrik rendah karbon secara stabil dan berkelanjutan dinilai cocok dengan karakter industri digital.

Kendati demikian, data center tetap memerlukan jaringan listrik yang andal serta sistem cadangan (backup system) untuk mengantisipasi potensi gangguan atau saat pembangkit memasuki masa pemeliharaan berkala.

"Untuk kondisi di Indonesia saat ini, belum ada dasar yang cukup kuat untuk menyatakan seberapa besar peluang realisasinya," ujar Zuhdi.

Dia menambahkan kendala terbesar dalam eksekusi proyek ini terletak pada kepastian tenggat waktu dan besarnya estimasi biaya.

Kebutuhan pasokan listrik untuk industri pusat data melonjak drastis saat ini, sedangkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) baru menargetkan operasional PLTN perdana pada 2032.

"Target operasional PLTN pada 2032 tergolong cukup ketat untuk dicapai," tegas Zuhdi.

Untuk itu, dia menyimpulkan lonjakan kebutuhan listrik data center dalam beberapa tahun ke depan harus tetap dipenuhi melalui opsi pembangkit dan transmisi jaringan yang sudah tersedia terlebih dahulu.

Pertumbuhan industri pusat data di kawasan Batam dan sekitarnya mengalami akselerasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Posisinya yang strategis dan berdekatan dengan Singapura menjadikan Batam sebagai hub alternatif utama untuk menampung limpahan investasi infrastruktur digital dan pemrosesan data regional.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi (Menko Hiltrans) sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong kawasan Batam, Karimun, dan Bintan yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau menjadi hub pusat data.

Bahlil menambahkan, target ini akan membuat lonjakan kebutuhan listrik berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diperkirakan mencapai 20 GW.

"Tadi saya baru berbincang dengan Dirut PLN, kita membutuhkan penambahan 20 GW atau 20.000 megawatt [MW]. Ini setara 20% dari total listrik existing sekarang," kata Bahlil dalam Bali Tech Week 2026 di Denpasar melalui keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).

Bahlil menjelaskan pergeseran dari komputasi awan ke AI memicu lonjakan konsumsi listrik secara drastis.

Jika pusat data konvensional hanya memerlukan daya 10—30 MW, fasilitas berbasis AI dapat mengonsumsi 100 MW hingga 1 GW per lokasi.

Untuk menangkap peluang investasi regional melengkapi hub Singapura dan Malaysia, pemerintah mengandalkan Batam, Karimun, dan Bintan.

Kawasan ini dinilai ideal karena ketersediaan air yang memadai, kepadatan penduduk yang relatif rendah, serta potensi pasokan energi baru terbarukan (EBT).

Guna mendukung keandalan pasokan energi bersih di hub baru tersebut, pemerintah menyiapkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt-peak (GWp).

Menurut Bahlil, langkah ini mulai membuahkan hasil di Batam. Saat ini, total kapasitas pusat data yang beroperasi, berkomitmen, dan dalam tahap pengembangan di Batam telah mencapai 1,47 GW.

“Dan juga PLN Batam dan DayOne telah menandatangani kontrak pasokan listrik sebesar 450 MW—kontrak listrik data center terbesar di Indonesia,” tambahnya.

Dalam pernyataan terbarunya, Bahlil  memasukkan Batam sebagai salah satu wilayah yang dikaji untuk pembangunan PLTN. Rencana tersebut masih dalam tahap studi dan pemeriksaan sebelum pemerintah menentukan kelayakan lokasi.

"Bapak-Ibu semua, apa strategi ke depan? Pemerintah Indonesia juga sudah melakukan kerja sama dengan beberapa negara untuk membangun PLTN," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Dia menyebut Batam sebagai salah satu lokasi yang masuk dalam kajian awal untuk menopang kebutuhan energi nasional.

"Salah satu studi lokasi yang kita tempatkan, kita akan taruh di Kepri yaitu di Batam untuk bagaimana menopang energi kita. Ini masih dalam kajian dan pemeriksaan," kata Bahlil.

Batam memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Singapura dan Malaysia serta berada di jalur perdagangan internasional. Namun, pemerintah belum memutuskan lokasi pembangunan PLTN tersebut karena masih menunggu hasil studi kelayakan atau feasibility study (FS).

Selain Kepulauan Riau, pemerintah turut mengkaji potensi pembangunan PLTN di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Sementara itu, untuk wilayah Halmahera, Maluku Utara, penjajakan kerja sama teknologi telah dilakukan dengan perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom.

(smr/wdh)

No more pages