Menurutnya, dana yang keluar akibat persoalan klasifikasi indeks tidak akan kembali hanya karena The Fed menahan suku bunga.
Imbal hasil SBN sebenarnya sudah cukup menarik, tetapi pelemahan rupiah mengurangi keuntungan investor asing.
“Selama risiko penurunan nilai tukar dinilai lebih besar daripada tambahan imbal hasil yang diperoleh, selisih yield belum cukup untuk menahan arus keluar,” kata Yusuf.
Sisi positifnya, menurut Yusuf, dengan tidak adanya kenaikan suku bunga memberi BI sedikit ruang untuk menjaga stabilitas pasar melalui intervensi di NDF, DNDF, dan pasar spot. Namun ruang kebijakannya tetap sempit.
“Dengan arah The Fed yang masih cenderung ketat, BI perlu mempertahankan suku bunga untuk menjaga rupiah dan belum memiliki ruang yang memadai untuk melonggarkan kebijakan demi mendorong pertumbuhan,” katanya.
Dalam jangka pendek, arah pasar juga masih sangat bergantung pada data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS.
Sebelumnya, Para pejabat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan dan menegaskan kembali komitmen mereka dalam menjinakkan inflasi, meski tanpa memberikan sinyal yang jelas apakah mereka akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya di bulan Desember.
Kendati demikian, Gubernur The Fed Kevin Warsh, dalam konferensi pers usai pengumuman keputusan tersebut, menegaskan bahwa jajarannya "telah memperjelas kesiapan untuk bertindak sesuai tuntutan keadaan, dan kami telah menunjukkan kemauan kami untuk bertindak."
(ell)



























