Logo Bloomberg Technoz

“Dengan dipangkasnya pasokan gas pipa tersebut, otoritas regulator energi Singapura, Energy Market Authority [EMA], terpaksa beralih secara agresif ke impor LNG melalui terminal regasifikasi di Jurong Island,” jelas Wahyu.

Selain itu, peralihan struktur pasokan ini membawa implikasi serius terhadap volatilitas harga gas di pasar regional.

Singapura kini menjadi jauh lebih terpapar pada indeksasi harga spot global, seperti Japan Korea Marker (JKM) maupun acuan minyak mentah Brent. 

Menurutnya, skema ini jauh lebih fluktuatif jika dibandingkan dengan formula harga gas pipa bilateral yang selama ini cenderung stabil dan dapat diprediksi.

Untuk memitigasi risiko lonjakan harga dan krisis pasokan, kedepan Wahyu memprediksi perusahaan pembeli gas di Singapura, seperti Sembcorp Industries dan Keppel Gas, mulai mengamankan pasokan melalui kontrak LNG jangka menengah dan panjang dengan sejumlah produsen global utama, termasuk Qatar, Amerika Serikat (AS), dan Australia. 

“Pada saat yang sama, mereka juga tetap menegosiasikan sisa volume gas pipa yang masih tersisa dalam jumlah lebih kecil, tetapi dengan klausul fleksibilitas yang jauh lebih ketat,” jelasnya. 

Secara keseluruhan bagi pasar energi regional, kebijakan tegas Indonesia dalam menghentikan ekspor gas pipa ini mengakselerasi pembentukan pasar LNG Asia Tenggara yang lebih likuid.

“Kendati demikian, perubahan ini juga membawa risiko tingginya harga energi yang pada akhirnya harus ditanggung oleh konsumen akhir di Singapura,” jelas Wahyu.

Sebagai perbandingan, harga gas pipa bilateral Indonesia–Singapura secara historis berkisar antara US$8—US$11/juta unit termal Inggris (MMBtu), sedangkan harga spot LNG acuan Asia (JKM) sangat fluktuatif dan kerap melonjak ke kisaran US$13—US18/MMBtu tergantung pada lonjakan permintaan musim dingin di Asia. 

Perbedaan harga sebesar US$3—US$7/MMBtu ini diperkirakan meningkatkan biaya pokok produksi listrik di Singapura hingga 15%—20%, yang berpotensi memicu penyesuaian tarif listrik berkala (electricity tariff adjustment) bagi sektor industri maupun rumah tangga di negara tersebut.

Di tingkat regional, pergeseran dinamika pasokan ini mempercepat transformasi Asia Tenggara dari pasar gas terikat menjadi pusat perdagangan LNG yang dinamis.

“Dengan proyeksi impor LNG Singapura yang naik secara signifikan dari sekitar 3,5 juta ton per tahun pada tahun-tahun sebelumnya menuju lebih dari 6 juta ton per tahun pada fase transisi ini, aktivitas transaksi perdagangan di Jurong Island diprediksi makin marak,” kata Wahyu. 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemangkasan yang dilakukan hanya sekitar 8% dan masih dalam batas kontrak minimum dan tidak melanggar perjanjian.

Bahlil memaparkan, total ekspor gas pipa Indonesia dari Laut Natuna dan Sumatera mencapai 409,55 BBtud. Dari jumlah itu, yang dipotong sebesar 31 BBtud.

"[Alokasi sebanyak] 31 BBTUD yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum," ujar dalam konferensi pers tentang ketahanan energi nasional, di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurut dia, pelanggaran kontrak baru terjadi bila pemotongan mencapai 10%. "Dan kita baru sekitar 8%, terkecuali kita potong 10%, nah itu baru kita melanggar kontrak," katanya.

Selanjutnya, Bahlil juga menyampaikan, selain gas pipa, Indonesia juga mengekspor sekitar 146 kargo LNG. Harga gas yang diberikan pun disebutnya tetap konsisten dengan kontrak, yakni di bawah rata-rata US$20/MMBtu, meski harga minyak mentah Indonesia (ICP) sedang naik.

Bahlil menegaskan, pemerintah menghormati setiap kontrak yang telah disepakati. Namun, dia berharap sikap saling menghargai juga berlaku dalam hubungan antarnegara.

"Jadi jangan ajarin Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga, menghargai kontrak. Indonesia ini terlalu baik. Terlalu baik. Menghargai kontrak, tapi hargai juga dong hubungan bersama antarnegara. Harus sama-sama menghargai," lanjut Bahlil.

(smr/wdh)

No more pages