Saham–saham kesehatan, saham keuangan, dan saham transportasi menjadi pendorong utama IHSG melesat di zona hijau dengan kenaikan 1,71%, 0,81%, dan 0,31%. Sementara itu saham infrastruktur mengalami pelemahan 2,13%.
Penguatan optimistis IHSG didorong saham LQ45 oleh menguatnya harga saham PT Astra International Tbk (ASII) menanjak 7,99%, dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang lompat 7,65%. Serta saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melesat 3,72%.
Adapun saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melaju 3,61% dan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga terangkat di zona hijau dengan kenaikan 3,52%. Serta saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 3,43%, yang menopang tren rebound IHSG.
Mencermati Bursa Saham regional, IHSG berhasil bergabung dengan Bursa Asia yang melaju di zona penguatan, bersama KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), TAIEX (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), dan Straits Times (Singapura), yang berhasil ditutup menguat.
Penyelenggaraan RUPSLB PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini menjadi katalis struktural yang sangat krusial bagi tata kelola dan masa depan pasar modal Indonesia, menyitir Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya per hari ini, Rabu (28/10/2026).
Agenda rapat mencakup persetujuan perubahan anggaran dasar dalam rangka demutualisasi, penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan laporan keuangan auditan hingga 30 Juni 2026, serta rencana kerja dan anggaran tahunan 2027.
“Isu yang paling menjadi perhatian investor adalah kemungkinan terbukanya jalan bagi investor strategis, termasuk Danantara, untuk menjadi pemegang saham BEI. Namun, RUPSLB tidak serta-merta berarti Danantara akan langsung masuk sebagai pemegang saham karena proses tersebut masih memerlukan tahapan lanjutan dan pemenuhan ketentuan regulator,” papar Mirae Asset.
Agenda RUPSLB ini tentunya memberikan dampak sentimen yang cenderung positif hingga strategis untuk jangka panjang,
sebut Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rabu.
Hal ini mengingat bahwa demutualisasi berpotensi menjadi katalis positif bila mampu memperkuat independensi bursa, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas tata kelola, serta memisahkan kepentingan bisnis dari fungsi pengaturan dan pengawasan. Selain itu, masuknya investor strategis juga berpotensi mendukung pengembangan infrastruktur perdagangan, pendalaman pasar, dan daya saing BEI di tingkat regional.
BEI Dapat Restu Pemegang Saham Buat Demutualisasi
Seperti diketahui, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperoleh persetujuan pemegang saham untuk mengubah anggaran dasar perseroan dalam rangka demutualisasi bursa melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu (28/10/2026).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan perubahan anggaran dasar tersebut diajukan sehubungan dengan pelaksanaan demutualisasi bursa sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, termasuk Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek.
Terlebih lagi, BEI disebut telah menerima penawaran dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk menjadi pemegang saham bursa. Saat ini, proses uji tuntas atau due diligence atas penawaran tersebut terus berlangsung.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, proses penjajakan kepemilikan saham bursa oleh Danantara masih berjalan. Namun, dia belum mengungkapkan detail penawaran maupun kepastian Danantara menjadi pemegang saham BEI.
“Penawaran sudah, due diligence sedang berjalan, tapi masih berproses," terang Jeffrey kepada jurnalis di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
BEI Tebar Dividen Perdana Rp1,56 Triliun
Dalam kesempatan yang sama, BEI menyetujui pembagian dividen khusus senilai Rp1,56 triliun kepada para pemegang sahamnya.
Pembagian dividen ini menjadi yang pertama kali dilakukan sejak berdirinya otoritas bursa.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pembagian dividen tersebut merupakan bagian dari penggunaan saldo laba ditahan perseroan dalam laporan keuangan auditan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Dalam RUPSLB, pemegang saham secara aklamasi menyetujui penggunaan saldo laba ditahan tersebut.
“Selain itu, juga disetujui pembagian dividen tunai yang merupakan dividen khusus kepada para pemegang saham perseroan yang berhak, sebagaimana tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal 27 Oktober 2026, dengan total nilai sebesar Rp1,56 triliun,” jelas Jeffrey dalam Konferensi Pers usai RUPSLB BEI.
(fad)































