Listyo menambahkan, demonstrasi yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan di tengah perbedaan pendapat.
Menurut dia, masukan yang disampaikan peserta demonstrasi dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga dan membangun bangsa.
“Ini adalah momentum Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang harus terus kita jaga semangat persatuan untuk terus membangun bangsa. Semua masukan dari para peserta unjuk rasa adalah bagian dari kita untuk bersama-sama menjaga dan merawat bangsa ini,” sebut Listyo.
Sebagai catatan, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memperkirakan sebanyak 10.000 hingga 12.000 orang dari berbagai elemen masyarakat sipil akan mengikuti aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan lima tuntutan utama. Pertama, menetapkan karhutla sebagai bencana nasional, mengadili korporasi yang bertanggung jawab, serta memulihkan ekosistem. Kedua, membenahi tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial.
Ketiga, menghentikan penyempitan ruang sipil dan militerisasi. Keempat, memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, menurunkan biaya pendidikan serta mewujudkan sistem pendidikan yang berpihak kepada rakyat.
(mef/frg)






























