Jeffrey mengatakan prospek pasar modal tahun depan akan bergantung pada perbaikan kondisi pasar. Meski demikian, dia melihat peluang pertumbuhan dari aktivitas pemerintah dalam mendorong investasi dan pengembangan industri manufaktur.
“Kalau prospek, tentu kita melihat, pertama, tentu kita berharap kondisi pasar itu membaik. Itu harapan kita semua,” kata Jeffrey.
Dia menambahkan, pembangunan kawasan industri dan dorongan investasi di sektor manufaktur berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan perusahaan.
Pasar modal menjadi salah satu alternatif sumber pendanaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Pemerintah kan aktif mendirikan kawasan industri itu. Mendorong perusahaan-perusahaan untuk berinvestasi di industri manufaktur misalnya. Nah, tentu itu kan akan membutuhkan pembiayaan. Salah satu potensi pembiayaannya tentu adalah melalui pasar modal,” ujarnya.
Selain itu, BEI melihat potensi pencatatan saham dari perusahaan-perusahaan hasil restrukturisasi kelompok Danantara. Namun, jumlah perusahaan yang berpotensi melantai di bursa masih perlu dipetakan.
Jeffrey mengatakan, meski tantangan pasar modal ke depan belum tentu berkurang, bursa masih melihat peluang yang dapat diupayakan untuk mendorong pertumbuhan.
“Jadi kami melihat terlepas bahwa tantangan ke depan mungkin tidak berkurang. Tetapi potensi yang bisa kita upayakan dengan kerja keras itu masih bisa kita lakukan,” katanya.
(fik/naw)



























