Logo Bloomberg Technoz

Terkait dengan kekhawatiran adanya aksi balasan dari Singapura—seperti penghentian kontrak BBM dengan Indonesia—Hadi menilai kemungkinan tersebut sangat kecil.

“Sebagai negara perdagangan, Singapura diprediksi tidak akan mengambil keputusan yang gegabah,” tambahnya. 

Hadi menambahkan volume gas yang dipangkas oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebenarnya relatif kecil. 

Pemangkasan tersebut hanya mencakup sekitar 5% dari total kontrak gas yang mencapai 700 juta standar kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD). Jumlah ini setara dengan hanya 2% dari total kebutuhan gas di Singapura.

Dia menguraikan jumlah pasokan gas yang berkurang hanya sebesar 31 MMSCFD atau setara dengan 12 miliar standar kaki kubik atau billion standard cubic feet (BSCF). Volume tersebut setara dengan empat kargo pengiriman LNG saja.

Untuk itu, potensi-potensi perselisihan dinilai dapat diselesaikan melalui mekanisme antarperusahaan atau business-to-business (B2B) secara elegan.

“Pemerintah dan pelaku industri di Singapura diperkirakan bakal memilih solusi yang minim risiko untuk menutupi kekurangan pasokan gas yang tidak terlalu signifikan ini,” tambahnya.

Beberapa langkah teknis yang dapat diambil antara lain mekanisme penggantian pasokan gas (make-up gas) atau skema pertukaran (swap mechanism) menggunakan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari lapangan gas domestik Indonesia, seperti Bontang di Kalimantan Timur, Lapangan Tangguh di Teluk Bintuni atau Kasuri di Provinsi Papua Barat.

Dengan skala pasokan yang tergolong kecil tersebut, Singapura diyakini Hadi tidak akan mendadak menghentikan aktivitas perdagangan BBM dengan Indonesia.

Untuk diketahui, berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih secara aktif mengimpor migas, termasuk BBM hasil olahan, dari Singapura. 

Sepanjang semester I-2026), BPS mencatat total akumulasi nilai impor migas Indonesia mencapai US$22 miliar, meningkat sebesar 38,71% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$15,86 miliar.

Dari total akumulasi tersebut, Singapura mendominasi sebagai pemasok terbesar dengan porsi mencapai 28,36% (setara lebih dari US$6,23 miliar).  

Ketergantungan Indonesia terhadap BBM dan hasil olahan minyak dari Singapura terjadi karena negara tetangga tersebut memiliki infrastruktur kilang pengolahan minyak berskala besar serta letak geografis yang sangat dekat.

Meskipun Singapura tidak memiliki sumber daya minyak mentah sendiri, kapasitas kilang mereka menjadi tumpuan bagi Pertamina untuk memenuhi defisit konsumsi energi domestik.  

Sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Singapura, pada hari Selasa, 17 Maret 2026../Bloomberg- Ore Huiying

 Ihwal pemangkasan ekspor gas ini, Singapura tengah mendiversifikasi pemasok, menambah kapasitas penyimpanan, dan membangun infrastruktur baru untuk melindungi diri dari meningkatnya risiko nasionalisme sumber daya (resource nationalism), kata Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng dalam pidatonya pada Senin, (26/10/2026).

Otoritas Pasar Energi Singapura menyatakan pihaknya memiliki pasokan yang cukup dan pemangkasan ekspor itu mencakup kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian. Tan mengatakan tidak ada kekhawatiran akan kekurangan pasokan.

“Kita bisa tetap tenang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa,” kata Tan dalam konferensi Singapore International Energy Week.

“Masyarakat dan dunia usaha dapat yakin bahwa keamanan energi selalu menjadi prioritas utama kami,” tambahnya.

Singapura berencana menambah kapasitas impor LNG agar dapat memasok gas dari lebih banyak sumber, membangun pembangkit listrik baru, serta meningkatkan cadangan bahan bakar untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan, kata Tan.

“Singapura tidak akan mampu sepenuhnya melindungi diri dari guncangan global maupun regional,” ujarnya. 

“Ketika pasokan mengetat, negara-negara mungkin juga akan memprioritaskan kebutuhan domestik mereka sendiri. Tren nasionalisme sumber daya ini sangat mengkhawatirkan," tambahnya.

Meski Indonesia merupakan eksportir gas utama, pengiriman ke luar negeri menurun dalam beberapa tahun terakhir karena porsi produksi yang dialokasikan untuk kebutuhan domestik semakin besar.

Pasar Utama

Pasar utama ekspor gas LNG Indonesia antara lain China, Jepang, dan Korea Selatan, sedangkan gas alam melalui pipa dikirim ke Singapura dan Malaysia.

Indonesia merupakan salah satu pemasok gas utama bagi Singapura, yang bergantung pada bahan bakar impor untuk hampir seluruh pembangkit listriknya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, negara pulau tersebut secara signifikan mengurangi ketergantungan pada pasokan gas melalui pipa seiring meningkatnya pengiriman LNG.

“Sekitar setengah dari kebutuhan gas kami dipenuhi melalui impor LNG dari portofolio sumber yang terdiversifikasi secara global, seperti AS, Afrika, Timur Tengah, dan Australia,” kata Tan.

Singapura memperkirakan kapasitas penyaluran LNG-nya akan meningkat 50% lagi setelah terminal impor keduanya mulai beroperasi sebelum 2030, ujarnya.

Singapura juga telah mengumumkan rencana pembangunan lima pembangkit listrik baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026 hingga 2031. Proyek-proyek tersebut akan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik lebih dari seperempat.

Impor BBM dan migas dari Singapura dipastikan masih terus berlanjut hingga akhir 2026.

Lonjakan permintaan energi di dalam negeri, tingginya mobilitas masyarakat, serta kapasitas kilang domestik yang belum sepenuhnya menutupi total kebutuhan harian BBM menjadikan impor sebagai langkah wajib untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional.  

Meskipun pemerintah telah mencanangkan program pembatasan dan pengurangan impor BBM secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan melalui optimasi kilang domestik, penghentian total belum memungkinkan dilakukan pada 2026.

Untuk itu, pengadaan dari Singapura tetap berjalan sampai penutupan Tahun Anggaran 2026.

(smr/wdh)

No more pages