Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan yield juga terjadi di pasar surat utang Jepang yang terkerek 1 bps jadi 2,79%, begitu juga dengan Inggris naik 3,1 bps jadi 5,35%. Sejalan dengan itu, yield surat utang Korea Selatan juga bertahan di 4,1%, dan China berada di 1,62%. 

Kenaikan US Treasury juga merata di hampir semua tenor. Seperti tenor 2 tahun, mencatat kenaikan yield 2,1 bps jadi 4,66%, disusul yield 5 tahun naik 1,2 bps jadi 4,78%. 

Namun, kenaikan yield di pasar surat utang AS dan secara umum di pasar global, yield surat utang pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) justru turun. Yield INDON 2 tahun turun 0,5 bps jadi 5,13%, diikuti tenor 3 tahun turun 0,8 bps jadi 5,19%, dan tenor 5 tahun turun 1,1 bps jadi 5,66%, dilanjut tenor 7 tahun turun paling dalam 2,9 bps jadi 5,92%. 

Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi, menyebut aksi beli INDON didorong oleh sentimen flight-to-safety, yakni peralihan investasi ke aset yang dinilai lebih aman di tengah meningkatnya risiko gagal bayar pada sebagian perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Adanya kekhawatiran terhadap kualitas kredit korporasi teknologi mendorong investor mengalihkan sebagian dana mereka dari obligasi korporasi ke US Treasury. 

Akan tetapi, ia menilai keberlanjutan sentimen itu berpotensi tertahan pekan ini. Pasar akan mencermati pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committe (FOMC), serta rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditure (PCE) edisi September. PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi preferensi The Fed.

Menjelang rilisnya kedua agenda tersebut, yield US Treasury kembali menanjak, yang juga dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$115/barel. Kenaikan harga energi berisiko memperbesar tekanan inflasi, alhasil berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter AS. 

Jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama, maka aksi beli di pasar INDON diperkirakan tidak langgeng. Sebab, kenaikan harga minyak memperkuat risiko inflasi dan mendorong yield US Treasury kembali tinggi. Alhasil, tekanan itu berpotensi menjalar ke pasar surat utang negara berkembang, lewat penyesuaian portofolio investor global. 

(dsp/aji)

No more pages