Lebih lanjut, Aspermigas menjelaskan bahwa penentuan harga jual gas domestik yang kerap berada di bawah biaya produksi akan menghancurkan tingkat keekonomian proyek.
Dalam kondisi tersebut, para kontraktor dipastikan memilih untuk menutup sumur ketimbang menanggung kerugian finansial secara terus-menerus.
Kerugian yang membayangi industri hilir dan hulu ini berisiko memicu efek domino bagi iklim investasi migas di Indonesia.
Moshe mengingatkan agar pemerintah tidak mengambil keputusan sepihak yang dapat merusak kepastian hukum dan iklim usaha yang selama ini dibangun.
"Mereka enggak akan menanggung harga untuk perusahaan yang merugikan gitu. Jadi pasti konsekuensinya adalah stop produksi," tegasnya.
Moshe juga menyoroti potensi timbulnya ketidakpastian regulasi jika kementerian terkait secara sepihak mengubah aturan ekspor-impor yang sudah disepakati dalam kontrak kerja sama.
Kebijakan ini dikhawatirkan menyerupai kotak Pandora yang dapat menurunkan kepercayaan investor global terhadap sektor energi Indonesia.
Sebelumnya, Bahlil membuka kemungkinan tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga apabila kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi.
Hal ini dia sampaikan saat menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kondisi Indonesia yang harus berada dalam posisi survival atau bertahan menghadapi tekanan global.
Menurut dia, arahan tersebut perlu diterjemahkan kementerian ke dalam pelaksanaan program yang memastikan kepentingan nasional tetap terjaga.
“Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga, karena kan harus survival, harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri,” ujar Bahlil di Istana Negara, Rabu (21/10/2026).
Dalam perkembangannya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan mulai mengurangi kuota ekspor gas ke Singapura dengan volume total 31 billion british thermal unit per day (BBtud).
Keputusan tersebut dinyatakan bakal dimulai pada hari ini, Sabtu (24/10/2026).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan ekspor gas yang dikurangi berasal dari wilayah Natuna sebesar 15 BBtud dan wilayah Sumatra sebesar 16 BBtud.
“Mulai besok [hari ini] kita kurangin gas ke Singapura dari Natuna 15 BBtud, dari Sumatra 16 BBtud,” kata Djoko kepada awak media, di sela Subroto Awards 2026, Jumat (23/10/2026).
Dia menyebut, wilayah kerja (WK) Jambi Merang di Sumatra menjadi lokasi pengurangan ekspor sebesar 16 BBtud ke Singapura.
Djoksis, sapaan akrabnya, juga memastikan hanya mengurangi ekspor gas ke Singapura. “Enggak ada, pipanya kan ke Singapura saja,” tegas Djoksis.
(wdh)






























