Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Singgih memprediksi volume perdagangan batu bara global bakal menurun, negara eksportir seperti Australia, Rusia, dan Kolombia yang mmeasik pasar Eropa diramal bakal menurunkan ekspornya pada tahun depan.

“Menjaga harga di level US$130—US$140/ton sudah cukup baik bagi Indonesia,” tutur Singgih.

Bagaimanapun, dia berharap proses evaluasi dan persetujuan RKAB dapat berjalan secara lancar dan tanpa hambatan. Dia menilai seharusnya RKAB 2027 dapat mulai diterbitkan pada November—Desember 2026.

“Terpenting menurut saya RKAB jangan sampai terlambat dan sebaiknya dapat difinalkan pada akhir November atau awal Desember,” tegas dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengatakan instansinya telah menyetujui 95% pengajuan RKAB batu bara 2026.

Meski demikian, Tri enggan memberikan angka detail RKAB batu bara 2026 yang telah disetujui sejauh ini.

“[Sebanyak] 95% RKAB keluar, sudah selesai,” ujar Tri saat ditemui awak media usai agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ihwal jumlah perkiraan produksi batu bara Indonesia secara keseluruhan pada 2026, Tri memang tidak memberi detail.

Namun, dia menyatakan prediksi total produksi tetap sama dengan yang sebelumnya dia sebutkan, yaitu sekitar 720 juta metrik ton atau dengan rata-rata produksi sekitar 60 juta mt per bulan.

“Ya sekitar itu [720 juta metrik ton] lah,” kata Tri.

Pada awal 2026, padahal, Kementerian ESDM mengatakan kuota produksi batu bara dalam RKAB 2026 berada di sekitar 600 juta metrik ton.

Adapun, China masih tercatat menjadi negara tujuan ekspor batu bara terbesar Indonesia yang melalui jalur laut pada September 2026, yakni mencapai 12,42 juta metrik ton.

Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler yang dihimpun SX Coal, ekspor batu bara ke China tercatat turun 15,48% dari bulan sebelumnya atau secara month to month (mtm) dan turun 32,97% secara tahunan atau year on year (yoy).

Secara umum, ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada September 2026 tercatat sebesar 36,45 juta metrik ton naik tipis 0,52% dari bulan sebelumnya dan turun 18,11% yoy.

Kenaikan tipis ekspor secara bulanan tersebut dinilai didukung pemulihan permintaan dari India dan Filipina. Namun, melambatnya permintaan dari China hingga Malaysia justru membebani ekspor secara keseluruhan.

“Indonesia mengekspor batu bara terbanyak ke daratan China pada September 2026, yaitu sebesar 12,42 juta metrik ton, turun 32,97% secara tahunan dan turun 15,48% dari bulan sebelumnya,” tulis SX Coal dalam risetnya, Selasa (13/10/2026).

Di sisi lain, sepanjang Januari—September 2026 atau year to date (ytd), SX Coal mencatat ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut mencapai 338 juta metrik ton atau turun 6,16% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sepanjang Januari—September 2026, ekspor batu bara Indonesia ke China tercatat sebesar 129 juta metrik ton atau turun 6,38% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, SX Coal mencatat India menjadi negara tujuan ekspor batu bara terbesar kedua dengan volume sebesar 8,53 juta metrik ton pada September 2026.

Besaran tersebut dilaporkan naik 22,03% dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi turun 3,63% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selanjutnya, ekspor batu bara Indonesia ke Filipina mencapai 3,37 juta metrik ton pada September 2026, naik 9,02% dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan naik 6,97% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kemudian, ekspor batu bara Indonesia ke Malaysia pada September 2026 mencapai 1,87 juta metrik ton atau turun 10,69% secara bulanan dan turun 26,02% secara tahunan.

Ekspor batu bara ke Vietnam pada September 2026 mencapai 1,86 juta metrik ton, turun secara 8,37% dan naik 4,77% secara tahunan.

Sekadar catatan, harga batu bara acuan (HBA) untuk periode pertama Oktober 2026 dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg turun 0,83% menjadi US$122,52/ton dibandingkan dengan harga acuan periode kedua September 2026.

Selain itu, HBA dengan nilai kalor 5.300 kcal/kg dipatok sebesar US$90,60/ton atau turun 3,56% dari harga acuan periode II September 2026.

Selanjutnya, HBA untuk kalor 4.100 kcal/kg dipatok pada level US$63,45/ton atau naik 0,44% dibandingkan dengan harga periode kedua September 2026.

Sementara itu, HBA dengan nilai kalor 3.400 kcal/kg dipatok seharga US$43,84/ton. HBA untuk kalori rendah itu turun 1,55% dibandingkan dengan periode kedua September 2026.

(azr/wdh)

No more pages