"Artinya, memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan perlu diperhatikan kualitas menu MBG, karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah," ujarnya.
Selain semangat belajar, Firman mengungkapkan bahwa studi tersebut juga menemukan bahwa penerima MBG cenderung lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut.
Perbedaan tingkat absensi itu bahkan terlihat cukup besar pada kelompok masyarakat paling miskin atau desil 1. Siswa dari kelompok tersebut yang tidak menerima MBG cenderung lebih sering absen dibandingkan mereka yang mendapatkan program makan bergizi gratis.
Firman menambahkan, penurunan absensi juga semakin terlihat seiring dengan meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah.
"Jadi ketika dia nonpenerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah. Dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya," tutur Firman.
Dia menilai temuan tersebut menjadi indikasi positif dari pelaksanaan MBG, meskipun program tersebut masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dibenahi pemerintah.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebelumnya menyampaikan perkembangan percepatan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Zulkifli mengatakan, pada tahap pertama, sebanyak 480 SPPG telah diselesaikan di wilayah Indonesia Timur, termasuk enam provinsi di Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku.
Memasuki tahap kedua, pemerintah mulai mengaktifkan 980 SPPG baru sejak 14 Oktober 2026 untuk wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
Adapun pelaksanaan di Pulau Jawa, terutama untuk pondok pesantren dan lembaga lainnya, diperkirakan mulai dilakukan pada pekan keempat Oktober 2026.
Zulkifli menegaskan bahwa proses pengajuan dan penyaluran program harus dilakukan secara langsung tanpa perantara atau makelar.
"Tidak ada perantara, tidak ada makelar. Langsung data dari pondok, langsung BGN, enggak ada lagi lagu lama, enggak ada yang ada lagu baru yang tertib," kata Zulkifli.
(dec/spt)






























