Analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan jika rupiah terus melemah, hal itu akan berdampak pada meningkatnya biaya barang impor, terutama minyak dan bahan baku industri, pangan, obat-obatan, mesin, hingga komponen produksi yang bergantung pasokan luar negeri.
Hal ini akhirnya mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Beban perusahaan yang memiliki kewajiban valas juga akan meningkat, sehingga berpotensi menekan margin keuntungan dan investasi.
Pada dasarnya, menurut dia, stabilisasi nilai tukar menjadi prioritas penting untuk membuat momentum pertumbuhan tetap terjaga.
Dalam perkembangannya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Bank Indonesia (BI) untuk terus menjaga stabilitas rupiah yang kadung menembus level Rp18.000/US$ dengan melakukan sejumlah intervensi.
“Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat dan mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, apakah itu dalam bentuk intervensi di swap, DNDF, dan NDF,” kata Gubernur BI, Destry Damayanti di Kompleks Istana Negara, Senin (19/10/2026).
Menurut Destry, BI juga sudah melakukan penjagaan rupiah lainnya dalam bentuk insentif biaya hedging yang juga sudah diberikan sejak akhir bulan Juni yang lalu untuk diteruskan.
Destry menjelaskan kebijakan tersebut sudah bisa mendatangkan inflow, baik dalam bentuk efek swap ataupun dalam bentuk DNDF, senilai sekitar US$8 miliar sampai US$9 miliar.
Meski demikian, Destry juga tak menampik bahwa saat ini situasi global juga masih volatil. Menurutnya, saat ini sejumlah negara tegah menghadapi situasi higher for longer, inflasi yang jauh di atas target mereka.
(lav)




























