Memasuki kuartal IV-2026, PGE akan memprioritaskan keandalan pembangkit untuk menjaga momentum produksi. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan aset yang telah beroperasi sekaligus melanjutkan pengembangan proyek strategis.
“Melalui pengelolaan aset yang optimal dan pengembangan proyek strategis, Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujarnya.
Keandalan Pembangkit Topang Produksi PGE
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menjelaskan, pencapaian rekor produksi tersebut ditopang oleh disiplin dalam menjalankan kegiatan operasi dan pemeliharaan pembangkit. Perseroan juga mengoptimalkan produksi serta menjaga kesiapan pasokan uap di berbagai wilayah kerja.
Menurut Andi, keandalan operasional menjadi faktor penting untuk memastikan pembangkit panas bumi mampu memasok listrik secara stabil. Pengelolaan reservoir, kesiapan unit pembangkit, dan pelaksanaan pemeliharaan yang efisien turut menentukan pencapaian produksi sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
“Capaian ini merupakan wujud nyata komitmen kami menjaga keandalan listrik panas bumi. Hasil ini buah dari disiplin mengelola reservoir, kesiapan pembangkit, dan eksekusi pemeliharaan yang semakin efisien. Dengan begitu, kami terus menghadirkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan untuk menunjang ketahanan energi nasional,” katanya.
Indikator operasional PGE hingga September 2026 turut menunjukkan tingkat kesiapan pembangkit yang melampaui rencana. Perseroan mencatat Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif sebesar 98,51%, lebih tinggi dibandingkan target 92,20%.
EAF mengukur tingkat ketersediaan pembangkit untuk beroperasi dalam periode tertentu. Capaian yang berada di atas rencana tersebut menunjukkan pembangkit PGE memiliki tingkat kesiapan yang kuat untuk mendukung produksi listrik.
Sementara itu, Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat sebesar 0,21%, jauh di bawah batas rencana 1,48%. Indikator ini menggambarkan tingkat gangguan atau penghentian operasi pembangkit yang tidak direncanakan. Semakin rendah angkanya, semakin baik keandalan operasional pembangkit.
Dari lima area operasi yang dikelola, Kamojang menjadi kontributor terbesar dengan produksi 1.438 GWh. Realisasi tersebut setara dengan 118,77% dari target dan menyumbang sekitar 35% terhadap total produksi listrik dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri.
Lumut Balai membukukan produksi sebesar 702 GWh atau 115,84% dari target. Pencapaian ini didukung permintaan listrik yang tinggi serta kesiapan pasokan uap dan pembangkit.
Adapun area Lahendong menghasilkan 658 GWh, setara dengan 106,44% dari target. Kinerja tersebut ditopang tingginya penyerapan listrik dari unit pembangkit yang beroperasi.
Capaian di ketiga area tersebut memperlihatkan kontribusi aset panas bumi terhadap produksi perusahaan. Optimalisasi pembangkit dan pengelolaan pasokan uap menjadi bagian penting dalam menjaga kinerja produksi sekaligus memenuhi kebutuhan listrik.
Kinerja Operasional Dukung Fundamental Keuangan
Di sisi keuangan, Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyatakan, kinerja operasional yang solid turut menopang fundamental perusahaan. Pada semester I-2026, PGE membukukan pendapatan sebesar US$79,61 juta, meningkat 15,48%.
Fransetya mengatakan, pertumbuhan produksi yang melampaui target menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja perusahaan. PGE juga berupaya menjaga kesehatan neraca keuangan dan memperluas akses terhadap pembiayaan dengan biaya yang kompetitif untuk mendukung pengembangan bisnis.
“Fundamental PGE tetap kuat. Produksi tumbuh di atas target, laba meningkat dua digit, dan neraca kami sehat. Ke depan, kami terus memperluas akses terhadap pembiayaan berbiaya kompetitif. Beberapa proyek strategis kami telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026. Hal ini membuka peluang pendanaan konsesional (concessional financing) dari lembaga pembiayaan internasional dengan biaya modal lebih rendah, yang diharapkan meningkatkan keekonomian proyek dan daya saing investasi,” ujar Fransetya.
Masuknya sejumlah proyek strategis ke dalam Green Book Bappenas 2026 membuka peluang bagi PGE untuk memperoleh pendanaan konsesional dari lembaga pembiayaan internasional. Skema tersebut berpotensi memberikan biaya modal yang lebih rendah sehingga dapat mendukung keekonomian proyek dan daya saing investasi.
Selain memperluas akses pendanaan, perusahaan turut memperhatikan pengelolaan struktur permodalan. Keseimbangan antara ekuitas dan utang serta pemeliharaan profil kredit menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pembiayaan untuk proyek-proyek pengembangan.
Ia menjelaskan bahwa fokus PGE bukan sekadar memastikan ketersediaan pendanaan. “PGE juga mengoptimalkan struktur permodalan dengan menjaga keseimbangan antara ekuitas dan utang serta profil kredit yang kuat. Dengan begitu, kami terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham dan investor.”
Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga kemampuan perusahaan dalam membiayai ekspansi tanpa mengabaikan kesehatan keuangan. Ketersediaan pembiayaan yang kompetitif juga menjadi faktor penting dalam mendukung proyek panas bumi yang membutuhkan investasi jangka panjang.
PGE melanjutkan pertumbuhan bisnis melalui optimalisasi aset eksisting, ekspansi kapasitas pembangkit, dan pengembangan sumber pendapatan baru. Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan meliputi Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Pengembangan proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menambah kapasitas terpasang sekaligus memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam bauran energi Indonesia. PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
Dengan rekor produksi sepanjang Januari hingga September 2026, PGE memasuki kuartal terakhir tahun ini dengan fokus mempertahankan keandalan pembangkit dan mengejar target tahunan. Optimalisasi aset, disiplin operasi, serta pengembangan proyek strategis menjadi penopang untuk menjaga pertumbuhan perusahaan dan mendukung transisi energi nasional.
(tim)





























