MBG Prasmanan, Pengalaman Baru Makan Siang di Sekolah
Andrean Kristianto
16 October 2026 19:20
Bloomberg Technoz, Jakarta - Suasana makan siang di kelas 7A SMP Kemala Bhayangkari 3, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026), terasa berbeda. Di sela pelajaran bahasa Inggris, para siswa tidak lagi menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam ompreng, tetapi mengantre untuk mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan.
Satu per satu siswa maju mengambil makanan sesuai takaran yang telah ditentukan. Setelah semua teman sekelasnya mendapat bagian, siswa yang bertugas piket menyusul untuk mengambil jatah makan siang mereka.
Baca Juga
Bagi Kanza, siswi kelas 7A, cara penyajian ini terasa lebih praktis. Ia tidak perlu bolak-balik mengambil ompreng, serta makanan yang disajikan juga terasa lebih hangat.
"Lebih enak prasmanan karena enggak bolak-balik ambil ompreng MBG. Makanannya juga lebih hangat, terus kalau MBG yang ompreng rasanya tuh udah agak hambar," kata Kanza, siswi kelas 7A SMP Kemala Bhayangkari 3, Jakarta Selatan.
Zakira, teman sekelas Kanza, juga menyukai penyajian MBG prasmanan. Baginya, kesempatan untuk menambah makanan jika masih tersedia menjadi kelebihan yang tidak didapatkan dari pembagian makanan dalam ompreng.
"Kalau misalnya prasmanan itu aku lebih suka, soalnya kalau kurang gitu bisa nambah," ungkap Zakira.
Uji coba penyajian MBG secara prasmanan di sekolah tersebut telah berlangsung selama sepuluh hari. Meski siswa mengambil makanan sendiri, pembagian tetap mengikuti takaran yang telah ditentukan agar setiap anak memperoleh porsi sesuai ketentuan.
Sebelum pembagian dimulai, siswa yang piket terlebih dahulu mengenakan celemek, sarung tangan, dan masker. Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kemudian memberikan arahan mengenai tata cara penyajian dan takaran makanan untuk setiap siswa.
Setelah seluruh siswa mendapatkan makanan, mereka yang masih ingin menambah diperbolehkan mengambil sisa makanan yang tersedia. Waktu makan siang berlangsung sekitar 25 menit sebelum kegiatan belajar kembali dilanjutkan.
Bukan hanya soal kepraktisan, penyajian prasmanan juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar tertib dan melayani orang lain. Wakil Kepala SMP Kemala Bhayangkari 3, Imam menilai keterlibatan siswa dalam membagikan makanan kepada teman sekelas dapat menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari.
"Kami lebih suka prasmanan karena ngajarin anak model antrean dan juga melayani temannya. Lebih tertib. Kalau [MBG ompreng] ini kan harus bawa-bawa dulu," ungkap Imam.
Penerapan metode prasmanan di sekolah tersebut merupakan bagian dari uji coba penyajian MBG yang dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 1.000 hingga 5.000 dapur SPPG dapat menerapkan metode tersebut hingga akhir 2026.
Hingga saat ini, sebanyak 62 SPPG di berbagai wilayah Indonesia telah mengikuti uji coba MBG prasmanan.
(dre/ros)
























