Logo Bloomberg Technoz

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 mencapai 3,28%, secara tahunan (year-on-year/yoy), naik dari 3,19% pada Agustus. Kenaikan inflasi itu dipicu oleh kelompok harga bergejolak, seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan. 

Arah Rupiah

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede memperkirakan rupiah pada posisi akhir Desember berpotensi berada di kisaran Rp17.800-18.000/US$, dengan asumsi tekanan eksternal mulai mereda dan BI melakukan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% pada kuartal IV-2026. 

Namun, Josua menekankan bahwa kisaran tersebut merupakan proyeksi akhir periode, bukan batas pergerakan rupiah sepanjang kuartal. Dia menyebut kinerja rupiah masih dapat bergerak lebih lemah sebelum kembali menuju kisaran tersebut. 

"Proyeksi itu juga disusun bersama asumsi kenaikan suku bunga BI sebesar 25 bps menjadi 6% pada triwulan IV, sehingga tidak terlepas dari respons kebijakan. Apabila tekanan global lebih berat daripada asumsi awal, maka proyeksi kurs tersebut juga menghadapi risiko revisi," kata Josua. 

Proyeksi Josua sejalan dengan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg yang melihat rupiah akan bertahan di sekitar Rp17.800/US$ dengan median estimasi di Rp17.785/US$. Namun, proyeksi terlemah untuk kuartal IV-2026 berada di level Rp18.350/US$, sementara proyeksi terendah di Rp17.400/US$. 

Sedangkan, untuk kuartal I-2027, median proyeksi yang dihimpun Bloomberg hanya sedikit berubah menjadi Rp17.800/US$, sementara rata-ratanya tetap di sekitar Rp17.815/US$. 

Namun, proyeksi terlemah pada kuartal awal tahun depan berada di Rp18.500/US$, diperkirakan oleh Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) menjadi paling bearish. Sementara yang terendah Rp17.200/US$ diperkirakan oleh Westpac Banking. 

Secara umum, pergerakan rupiah pada kuartal IV-2026 akan banyak ditentukan oleh faktor eksternal, terutama dari pergerakan dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, dan kebijakan The Fed. 

Oleh karena itu, katalis yang dibutuhkan rupiah adalah meredanya ketegangan geopolitik, penurunan harga minyak mentah, disertai yield US Treasury yang kembali melandai. 

Meski begitu, bukan berarti faktor penopang rupiah dari sisi domestik tidak sepenuhnya berarti. Arah inflasi, arus modal, neraca perdagangan, dan respons Bank Indonesia (BI) akan menjadi penentu berikutnya. 

"Ada penyangga domestik yang perlu diperhitungkan. Surplus perdagangan Agustus meningkat menjadi US$3,55 miliar dari US$0,12 miliar pada Juli," sebut Josua. 

Namun, menurutnya, peningkatan surplus tersebut yang berasal dari penurunan impor belum bisa diartikan sebagai penguatan ekspor yang berkelanjutan. Josua menambahkan, untuk membaca arah rupiah ke depan, pasar tak cukup hanya melihat pergerakan kurs, tapi juga akan mencermati kualitas surplus perdagangan, arus dana asing, harga minyak, serta kecukupan cadangan devisa.

Sebagai catatan, kinerja rupiah sempat membaik pada kuartal III-2026 dengan menguat terbatas 0,07%, ketimbang kinerja rupiah di kuartal II-2026 anjlok 4,96%. Pada kuartal I-2026, mata uang Ibu Pertiwi terdepresiasi 1,79%. 

(dsp/aji)

No more pages