Kemungkinan kembali memanasnya konflik di Timur Tengah membuat investor harus mempertimbangkan ancaman inflasi akibat kenaikan harga minyak di tengah tanda-tanda bahwa The Fed mungkin mengambil pendekatan yang lebih terukur terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Pergerakan harga energi dan setiap eskalasi antara Washington dan Teheran dapat menentukan apakah penguatan Treasuries dapat bertahan serta seberapa besar tekanan yang akan merembet ke pasar saham.
"Kami masih berpandangan bahwa The Fed cenderung menerapkan siklus kenaikan suku bunga terbatas sebanyak dua atau tiga kali dalam skenario dasar," kata Krishna Guha dari Evercore. "Saat ini, The Fed tidak melihat permintaan yang begitu kuat hingga menimbulkan risiko nyata terjadinya overheating akibat lonjakan permintaan."
Penguatan pasar obligasi AS semakin cepat pada Kamis setelah kekhawatiran mengenai kondisi fiskal dan politik Prancis mendorong premi risiko di kawasan euro lebih tinggi. Imbal hasil obligasi Inggris bertenor panjang juga melonjak hingga menembus 6%.
Di AS, meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven membantu mendorong imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua tahun turun sebanyak 14 basis poin menjadi 4,74%.
Pernyataan Wakil Gubernur Federal Reserve Philip Jefferson turut menopang penguatan tersebut. Ia mengatakan bahwa bank sentral mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai apakah kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan.
Pernyataan Jefferson sejalan dengan komentar Gubrnur Federal Reserve Bank of New York John Williams pada Selasa. Williams mengatakan belum ada urgensi untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga berikutnya setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan menaikkan suku bunga pada September.
Para analis dan pedagang Wall Street mengatakan pekan ini bahwa arus minyak mentah dari Timur Tengah hampir kembali ke level sebelum perang. Namun, Iran tampaknya tidak memuat minyak mentah ke kapal tanker sepanjang September. Kondisi tersebut menjadi indikasi terbaru mengenai efektivitas blokade laut AS dalam memutus akses Republik Islam tersebut ke pasar energi.
Investor mewaspadai kemungkinan Iran yang semakin terdesak merespons dengan meningkatkan eskalasi konflik.
"Kenaikan arus pasokan masih sangat rentan terhadap eskalasi," kata Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics. "Saya juga akan menggambarkan pasar saat ini secara struktural masih ketat karena tingkat persediaan relatif rendah setelah sekitar enam bulan mengalami penurunan. Kondisi itu menjadi penopang harga."
(bbn)




























