Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, yang berada di Liverpool untuk menghadiri konferensi tahunan Partai Buruh yang berkuasa, menyebut insiden tersebut "sangat mengkhawatirkan". "Saya ingin masyarakat mengetahui bahwa kami akan selalu mengambil setiap langkah yang diperlukan untuk melindungi komunitas dan menjaga keamanan negara kita," kata Burnham.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting melakukan pembicaraan melalui telepon dengan mitranya dari AS, Pete Hegseth, pada Minggu (27/9), menurut seorang pejabat Inggris.
Polisi menindaklanjuti laporan yang diterima pada pukul 00.45 waktu setempat mengenai tiga kendaraan mencurigakan yang diduga bergerak menuju pangkalan tersebut. Petugas kepolisian bersenjata dikerahkan dan menangkap kelima pria itu. Sementara itu, warga sebuah desa di dekat lokasi dievakuasi dan tim penjinak bahan peledak militer memeriksa kendaraan-kendaraan tersebut. Foto-foto dari lokasi kejadian memperlihatkan tiga mobil van putih yang terparkir serta lima pria bertelanjang dada dalam posisi duduk dengan tangan terborgol di tanah.
"Kami masih berada pada tahap awal penyelidikan dan lima pria masih ditahan," kata Koordinator Senior Nasional Kepolisian Antiterorisme Inggris, Vicki Evans.
Saat berbicara kepada wartawan, Trump mengisyaratkan bahwa sebagian tersangka mungkin telah lama berada dalam pengawasan. "Kami telah mengawasi mereka sejak lama," katanya, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.
RAF Fairford merupakan pangkalan operasi terdepan pengebom yang menjadi pilihan utama Komando Serangan Global Angkatan Udara AS di Eropa. Pada Juli, Burnham menyetujui penggunaan pangkalan tersebut oleh AS untuk melancarkan "serangan defensif" terhadap Iran. Kebijakan itu melanjutkan langkah pendahulunya, Keir Starmer.
Saat ini, Inggris menghadapi berbagai ancaman keamanan sehingga polisi memiliki sejumlah kemungkinan motif yang perlu diselidiki.
Pemerintah Inggris secara terbuka mengaitkan sejumlah insiden antisemitisme dalam beberapa bulan terakhir dengan kelompok-kelompok yang didukung Iran. Secara terpisah, aktivis sayap kiri yang menentang perang Israel di Gaza telah beberapa kali menerobos masuk ke pangkalan militer Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
Inggris, seperti negara-negara Eropa lainnya, juga menghadapi peningkatan aksi yang disebut sebagai perang "hibrida" Rusia, termasuk serangan terhadap gudang-gudang yang menyimpan barang-barang untuk dikirim ke Ukraina.
Pada Juli, pemerintah Inggris menyatakan tengah menyelidiki kelompok proksi yang disebut didukung Iran, Harakat Ashab al-Yamin al-Islamia, terkait serangkaian serangan pembakaran terhadap sejumlah lokasi Yahudi di London. Pada 2015, Direktur Badan Keamanan Dalam Negeri Inggris MI5, Ken McCallum, mengatakan timnya telah melacak "lebih dari 20 rencana serangan yang berpotensi mematikan dan didukung Iran" sepanjang tahun sebelumnya.
Komando Eropa AS menyatakan bahwa pihaknya "tetap waspada". Seorang juru bicara menambahkan bahwa komando tersebut "akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel militer, warga sipil, kontraktor AS, serta keluarga mereka di seluruh wilayah Eropa".
(bbn)





























