Logo Bloomberg Technoz

Tingkat Konsumsi

Hadi memaparkan tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri saat ini telah menyentuh angka 1,6 juta barel per hari.

Dia menjelaskan, jika pasokan impor minyak mentah dan BBM mengalami kemacetan total, ketahanan energi nasional tanpa penambahan cadangan hanya mampu bertahan selama 30 hari.

“Kondisi tersebut dinilai berisiko memicu potensi kerusuhan sosial di tengah masyarakat,” tambahnya.

Meskipun demikian, Hadi berpendapat skenario terburuk seperti penghentian total pasokan impor relatif kecil kemungkinan terjadi.

Dia menjelaskan ketersediaan minyak mentah dan BBM di pasar internasional akan tetap ada meskipun harganya melambung tinggi, selama kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) tetap sehat dan mencukupi.

Selain itu, faktor keamanan jalur pelayaran di Selat Malaka yang secara historis tidak pernah ditutup oleh negara-negara di kawasan Asean turut memperkecil resiko terputusnya jalur pasokan ke dalam negeri. 

Standar Internasional

Di sisi lain, Hadi mengatakan peningkatan kapasitas simpan hingga dua kali lipat ini juga selaras dengan standar ketahanan energi internasional yang direkomendasikan oleh International Energy Agency (IEA). 

“Negara-negara berkembang dengan tingkat konsumsi energi yang tinggi idealnya memiliki ruang simpan strategis yang mampu menopang pasokan nasional ketika jalur logistik utama dunia mengalami disrupsi sementara,” katanya.

Langkah antisipatif ini turut memitigasi dampak bullwhip effect pada perekonomian domestik.

Jika stok energi nasional menipis hingga batas kritis, spekulasi pasar akan langsung mendorong lonjakan inflasi barang pokok dan biaya transportasi, yang pada akhirnya berisiko memicu keresahan sosial dan mengganggu stabilitas nasional.

Di dalam negeri, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui ketahanan stok BBM Indonesia masih jauh di bawah sejumlah negara Asean.

Airlangga menyebut stok BBM Indonesia rata-rata hanya cukup untuk sekitar 20 hari, sedangkan negara Asean lainnya bisa mencapai 90 hari.

“Jadi itu menjadi tantangan tersendiri untuk kita,” kata Airlangga dalam acara Antara Business Forum 2026 di Hotel Fairmont, Rabu (23/9/2026). 

Melihat tantangan tersebut, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Strateginya tidak hanya berfokus pada jumlah cadangan pasokan, tetapi juga menggenjot kapasitas produksi kilang minyak di dalam negeri serta mendorong transisi ke energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah jangka panjang.

Langkah ini, menurut Airlangga, krusial untuk menekan ketergantungan pasokan impor di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok global.

Di tengah gejolak global—seperti konflik Amerika Serikat (AS)-Iran di Selat Hormuz hingga perang Rusia-Ukraina — Airlangga memastikan harga BBM tidak akan naik hingga akhir 2026. 

Di sisi lain, pemerintah masih memanfaatkan APBN sebagai bantalan (buffer) fiskal guna menyerap dampak lonjakan harga minyak dunia. 

Airlangga menambahkan selama harga minyak mentah internasional masih di bawah US$100/barel (saat ini harga acuan pemerintah berkisar di angka US$90-an/barel), anggaran negara masih sanggup menahan penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Alhamdulillah untuk Indonesia transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer APBN kita, sehingga kalau harga minyak di bawah 100 [US$/barel], sekarang harga pembelian pemerintah khusus yang non-subsidi itu di bawah 100 [US$/barel], sekitar 90-an [US$/barel],” kata dia.

Untuk diketahui, pasar bahan bakar global mengalami tekanan tahun ini akibat dampak gabungan dari konflik AS-Iran serta perang antara Rusia dan Ukraina, di mana Kyiv terus menggempur kilang-kilang minyak Moskwa.

Akibatnya, Bangladesh baru saja menaikkan harga bahan bakar hingga 17,4%. Kementerian Energi Bangladesh mengatakan harga bahan bakar internasional telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Maret 2026. Biaya pengiriman barang juga melonjak signifikan akibat ketidakstabilan kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan tarif baru tersebut, harga solar naik 17,4% menjadi 135 taka per liter dari sebelumnya 115 taka. Harga bensin oktan 95 naik menjadi 165 taka per liter dari 145 taka, bensin biasa naik menjadi 160 taka dari 140 taka, sedangkan harga minyak tanah naik menjadi 155 taka dari 135 taka.

Kementerian Energi mengungkap perusahaan milik negara, Bangladesh Petroleum Corporation, mencatat kerugian sebesar 228,76 miliar taka antara Maret dan Agustus.

Kenaikan harga terbaru ini diperkirakan bisa memangkas kerugian tahunan sekitar 100 miliar taka, sekaligus menghemat cadangan devisa dan menekan penyelundupan bahan bakar ke negara-negara tetangga yang memiliki harga jual lebih tinggi.

Sementara itu, Bolivia mengakhiri subsidi solar demi mengatasi kelangkaan bahan bakar dalam negerinya yang kronis.

Presiden Bolivia Rodrigo Paz mengatakan harga bahan bakar dalam negeri kini akan mengikuti patokan global, ​akan turun jika harga internasional menurun.

"Mulai hari ini [Jumat], harga solar akan sama dengan biaya yang harus kita keluarkan saat membeli di luar negeri," kata Paz, dikutip dari Reuters.

Kebijakan ini menggantikan sistem ‌penetapan harga ganda  yang diperkenalkan pada Agustus yang membebankan 18 boliviano per liter kepada konsumen dalam jumlah besar, sambil tetap mempertahankan tarif subsidi sebesar 9,80 boliviano bagi ⁠yang lain.

Bolivia, menurut Paz, mengimpor sekitar 90% bahan bakar solarnya, dan pemerintah menghabiskan ⁠sekitar US$55 juta setiap minggu untuk subsidi.

(wdh)

No more pages