Suplai Energi
Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.
Dedy menambahkan, dalam proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.
“Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di Kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini,” kata Dedy.
“Perlu diketahui pula, dampak El Niño ini turut dirasakan masyarakat di Kecamatan Bahodopi. Atas dasar itu, perusahaan mengambil inisiatif jangka pendek dengan memberikan bantuan air bersih kepada warga, dan sebagian warga telah menerima bantuan air bersih dari perusahaan, meski penyalurannya belum dilakukan secara rutin,” tambahnya.
Adapun, PT IMIP—yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh raksasa nikel China, Tsingshan Holding Group Co. — dikabarkan telah menginformasikan perusahaan-perusahaan smelter di kawasannya pada akhir pekan lalu untuk mengurangi produksi NPI gegara kekurangan air.
Volume produksi NPI yang terdampak pemangkasan ini diperkirakan mencapai sekitar 100.000 ton, menurut sumber Bloomberg.
Sebagai perbandingan, kapasitas produksi terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta ton per tahun atau sekitar 350.000 ton per bulan, berdasarkan estimasi Wood Mackenzie.
Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengamini smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Dedy tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi,” tegas Dedy.
Dalam perkembangannya, smelter HPAL milik Nickel Industries Limited di IMIP mengalami kendala proses peningkatan produksi atau ramp up sebab pasokan air tak mencukupi terimbas fenomena El Niño.
Dalam pengumuman resminya, Nickel Industries mengungkapkan proyek excelsior nickel cobalt (ENC) tersebut telah mencapai tingkat produksi sekitar 50% dari kapasitas terpasang dalam waktu empat pekan sejak dimulai komisioning.
Dengan kondisi kekeringan yang terjadi, proyek ENC diperkirakan baru bisa beroperasi sekitar 30% dari kapasitas terpasang hingga ketersediaan air kembali normal.
Perseroan mengungkapkan curah hujan di tambang Hengjaya—yang memasok bijih ke proyek ENC, secara rata-rata mencapai 222 milimeter (mm) dan curah hujan yang tercatat pada Agustus 2026 kurang dari 4 mm.
“ENC telah menunjukkan kinerja yang sangat baik sejak commissioning, mencapai sekitar 50% dari kapasitas terpasang dalam waktu empat minggu, yang merupakan pencapaian nyata dari tim operasional kami,” kata Managing Director Justin Werner dalam pengumuman resminya, Selasa (15/9/2026).
“Kondisi kering di Sulawesi Tengah merupakan kendala yang tidak biasa dan bersifat sementara terhadap pasokan air, dan kami memperkirakan ketersediaan air akan kembali normal seiring dimulainya musim hujan,” tegas Werner.
Nickel Industries memegang 46% saham smelter HPAL proyek ENC, kemudian Decent Resources memegang 44% saham, dan Sphere holding sebesar 10%.
ENC diperkirakan memproduksi 72.000 metrik ton per tahun setara nikel terkandung dari tiga produk nikel kelas 1 utama, yaitu mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan katoda nikel.
(wdh)





























