Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Ramal BI Rate Ditahan: Sudah Antisipasi Kenaikan FFR

Pramesti Regita Cindy
23 September 2026 08:30

Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Dimas Ardian/Bloomberg)
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) hari ini digelar di tengah tekanan terhadap rupiah akibat tingginya yield global, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global, termasuk naiknya suku bunga The FED.

Meski begitu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%.

“Alasannya, kenaikan suku bunga Bank Sentral AS sebesar 25bps menjadi 3,75–4,00% pada 16 September pada dasarnya sudah banyak diantisipasi oleh BI ketika menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei–Juni,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Rabu (23/9/2026).


Josua menyebut apresiasi rupiah pada Agustus, kembalinya surplus perdagangan, meningkatnya cadangan devisa, serta suku bunga pasar uang yang semakin mendekati BI-Rate menunjukkan bahwa transmisi pengetatan sebelumnya mulai bekerja.

Karena itu, untuk September, manfaat tambahan dari kenaikan bunga perlu dibandingkan dengan biaya terhadap kredit, konsumsi, investasi, dan pertumbuhan. Bank Sentral AS sendiri menaikkan suku bunga karena aktivitas ekonomi masih solid dan inflasi masih tinggi.