Logo Bloomberg Technoz

Dalam skenario tersebut, pemerintah telah meluncurkan tahap awal berkapasitas 5,3 GW pada tahun ini dan berencana untuk segera memulai proses tender untuk target selanjutnya yang berkisar antara 25—30 GW.

“Khusus untuk PLTS 100 gigawatt, kami rencanakan dalam waktu tiga tahun. Tahun ini kita sudah luncurkan kurang lebih sekitar 5,5 GW dan tahap pertama itu 25—30 GW,” tambah Bahlil.

Menurut Bahlil, percepatan regulasi dan kemudahan investasi ini sangat krusial mengingat lonjakan kebutuhan energi global, khususnya untuk menopang infrastruktur data center yang perkembangannya kian pesat.

“Kita punya potensi energi baru terbarukan [EBT] yang sangat melimpah—mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin—sehingga mampu menghasilkan daya listrik dengan tarif yang jauh lebih bersaing dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara,” jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan proyek PLTS berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp).

Groundbreaking proyek strategis nasional ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Prabowo Subianto di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).

Sebagai tahap awal, proyek ini dimulai dengan pembangunan PLTS berkapasitas total 5,3 GWp yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.

"Saya percaya mungkin kurang dari tiga tahun kita akan sampai 100 GWp," ujar Prabowo.

Optimisme tersebut didasari oleh pengalaman kabinetnya yang berhasil mempercepat target swasembada pangan dari empat tahun menjadi hanya satu tahun.

Sebagai bentuk apresiasi, Presiden mengumandangkan janji untuk memberikan tanda kehormatan kepada tim energi jika target 100 GWp berhasil diraih tepat waktu.

"Dahulu swasembada pangan saya beri target empat tahun, tim ekonomi, tim pertanian, tim pangan berhasil satu tahun," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Bahlil juga mengungkapkan bahwa total investasi yang dibutuhkan untuk program ini mencapai US$73 miliar atau sekitar Rp1.140 triliun.

Pengembangannya menggunakan tiga konsep utama, yaitu PLTS Ground Mounted di lahan terbuka skala besar, PLTS Atap pada bangunan, dan PLTS Terapung di atas waduk atau badan air.

Bahlil menjelaskan pemanfaatan PLTS yang terintegrasi dengan BESS berpotensi menghemat biaya operasional hingga Rp73,9 triliun per tahun jika dibandingkan dengan penggunaan pembangkit bermesin diesel.

Selain itu, proyek megah ini diproyeksikan membuka 5,52 juta lapangan kerja baru serta mengurangi emisi karbon sebesar 140 juta ton CO₂ per tahun, yang setara dengan nilai ekonomi karbon Rp6,31 triliun.

"Untuk PLTS-nya saja yang sekarang kita resmikan, itu nilainya itu kurang lebih sekitar 5 sampai 6 sen. Namun, itu belum termasuk baterai,” kata Bahlil.

(smr/wdh)

No more pages