Logo Bloomberg Technoz

Prof Anggraini menekankan vaksinasi tahunan menjadi salah satu langkah utama untuk mencegah influenza dan komplikasinya. Hal ini karena virus influenza terus mengalami perubahan sehingga komposisi vaksin dapat disesuaikan dengan strain yang diperkirakan beredar.

“Yang tidak kalah penting adalah pencegahan melalui vaksinasi tahunan dan penerapan protokol kesehatan,” tegas Anggraini.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), mengingatkan orang tua untuk mewaspadai tanda bahaya pada anak yang mengalami influenza, seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, dan dehidrasi.

“Kami mengingatkan bahwa pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, atau dehidrasi. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Hikari.

Untuk anak yang terinfeksi influenza, IDAI merekomendasikan istirahat yang cukup, hidrasi yang adekuat, serta pemberian obat penurun demam sesuai indikasi. Anak yang sakit juga dianjurkan tetap berada di rumah dan tidak dibawa ke sekolah atau tempat bermain hingga pulih.

Anak berusia di bawah 5 tahun memiliki risiko morbiditas yang tinggi, terutama mereka yang menghadiri tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologi dan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, atau berada di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

“Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati. Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus,” kata Prof Anggraini.

Obat antivirus seperti oseltamivir efektif jika diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dan resep dokter, dengan dosis yang disesuaikan dengan usia dan berat badan anak.

Prof Anggraini mengatakan anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Karena itu, penerapan etika batuk, mencuci tangan secara rutin, penggunaan masker, serta menjaga asupan cairan menjadi bagian penting dari pencegahan penularan dan dehidrasi.

Data IDAI menunjukkan sekitar 5% anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap. Dari kelompok tersebut, sekitar 80% merupakan anak berusia di bawah 2 tahun, sedangkan 50% di antaranya berusia kurang dari 6 bulan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 12 September 2026, proporsi influenza pada minggu epidemiologi ke-35 meningkat menjadi 38%, dari 22% pada minggu sebelumnya. Dari kasus influenza yang terdeteksi, 33% terjadi pada kelompok usia 0-4 tahun.

Data tersebut dikumpulkan dari pemeriksaan di 13 B/BLKM, sembilan rumah sakit, dan Laboratorium Biologi Kesehatan. Kemenkes menyebut data dalam beberapa minggu terakhir masih bersifat sementara sehingga dapat berubah.

Pada minggu ke-35, dari total 175 spesimen yang diperiksa, terdeteksi 66 kasus positif influenza. Kasus tersebut terdiri dari dua positif Influenza A (H3N2), 63 positif Influenza A (H1N1Pdm09), dan satu positif Influenza B (Victoria).

Sementara itu, berdasarkan pemeriksaan multipatogen pada minggu ke-35, proporsi kasus positif lainnya terdiri dari Rhinovirus (HRV) sebesar 13% dan Parainfluenza Virus (PIV) 1 sebesar 6%.

Kasus influenza tersebut tersebar di 13 provinsi. Provinsi dengan proporsi kasus terbanyak adalah Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, masing-masing sebesar 24%.

Berdasarkan kelompok usia, mayoritas kasus berada pada kelompok usia 6-18 tahun sebesar 35%, disusul usia 19-59 tahun sebesar 28%, 1-5 tahun sebesar 22%, 60 tahun ke atas sebesar 12%, dan di bawah 1 tahun sebesar 3%. Mayoritas kasus merupakan perempuan, yakni 61% atau 46 kasus.

(dec/spt)

No more pages