Logo Bloomberg Technoz

Faktor Penyeimbang

Kendati begitu, Josua memandang terdapat satu skenario yang berpotensi menyeimbangkan persoalan tersebut, yakni; jika suku bunga tinggi di AS akhirnya memperlambat permintaan global maka tekanan harga minyak secara bertahap bisa mereda.

Josua mencatat harga minyak mentah Brent mulai turun beberapa hari terakhir karena kekhawatiran pasar ihwal gangguan pasokan sedikit mereda.

Kendati begitu, dia memprediksi selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan Bank Sentral AS masih memberikan sinyal hawkish, masih terdapat risiko jangka pendek berupa dolar AS yang kuat, harga energi tinggi, dan tekanan biaya impor Indonesia.

“Jadi inti persoalannya adalah Indonesia sedang menghadapi guncangan harga minyak dan kurs secara bersamaan pada saat defisit perdagangan migas sudah besar,” ungkapnya.

Harga minyak pada pembuka pekan ini stabil saat para trader memantau risiko pasokan di Timur Tengah serta upaya diplomatik yang makin intensif untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran.

Harga minyak Brent untuk penyelesaian November turun 0,1% menjadi US$103,76/barel pada pukul 06.46 pagi waktu Singapura. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 0,3% menjadi US$99,99/barel.

Pergerakan futures minyak Brent dan WTI./dok. Bloomberg

Harga minyak mentah telah naik sekitar tiga perempat tahun ini, karena perang AS-Iran mengurangi aliran minyak dari Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina terus berlanjut.

Lonjakan harga minyak mentah di atas level US$100/barel dan bahan bakar minyak (BBM) telah memicu tekanan inflasi global, sehingga mendorong The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu pekan lalu dan memberi sinyal pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut pada sisa tahun ini.

Pipa minyak Timur-Barat—yang mengangkut minyak melintasi Arab Saudi ke pantai Laut Merah—rusak akibat serangan dua pekan lalu, sehingga ikut mengerek harga minyak mentah.

Jalur pipa ini telah muncul sebagai solusi penting untuk pengiriman melalui Selat Hormuz, yang masih diperebutkan oleh Washington dan Teheran.

Adapun, BPS mencatat nilai impor migas Indonesia sepanjang Juli 2026 membengkak US$1,25 miliar atau 49,91% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan impor migas disebabkan oleh bertambahnya impor minyak mentah senilai US$848,3 juta atau 49,11% dan hasil minyak sebesar US$406,3 juta atau 51,68%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya

Sementara itu, selama periode Januari hingga Juli 2026, nilai impor migas RI meningkat US$7,40 miliar atau 40,24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan ini dipicu oleh bertambahnya impor minyak mentah senilai US$2,08 miliar atau sebesar 41,81% dan hasil minyak senilai US$5,32 miliar atau sebesar 39,66%.

(wdh)

No more pages