Lebih lanjut, Prabowo menilai kesejahteraan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara memastikan setiap keluarga mendapatkan pelayanan kesehatan. Selain itu, keberhasilan tersebut juga tercermin jika setiap anak memperoleh makanan yang cukup sebelum mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Tidak ada Bapak dan Ibu yang bingung kalau anaknya sakit. Tidak ada anak-anak Indonesia yang berangkat sekolah kelaparan,” ujarnya. Menurutnya, persoalan stunting dan kekurangan gizi dapat menghambat pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan kecerdasan anak.
“Tidak ada anak-anak Indonesia yang stunting, yang tidak dapat gizi, sehingga tulangnya lemah, ototnya lemah, sel otaknya lemah. Tidak bisa bersaing dengan anak-anak bangsa lain,” tegas Prabowo.
Ia menekankan dirinya tidak ingin membiarkan masih ada rakyat Indonesia yang hidup dalam kelaparan atau anak-anak yang kehilangan masa depan akibat kekurangan gizi.
Adapun, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sempat merilis hasil sigi yang digelar pada periode 5-19 Juli 2026. Data survei tersebut menampilkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada pada angka 51,1%; atau turun dari hasil survei yang dikumpulkan pada November 2025 yaitu 81,2%.
Berarti, dalam kurun hanya sembilan bulan, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo anjlok hingga 30,1%. “Penurunan tingkat kepuasan publik ini berhubungan erat dengan merosotnya sentimen positif terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum,” kata Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani.
Kelakar Prabowo: Panggil Saya Mas, Bukan Mbah atau Aki
Pada kesempatan yang sama Prabowo sempat berkelakar lebih senang dipanggil “Bang Bowo” atau “Mas Bowo” oleh seluruh kader Partai Amanat Nasional (PAN), dibandingkan dipanggil dengan sebutan “Mbah” hingga “Aki”
Prabowo menyatakan secara formal dirinya hadir ke agenda peranyaan PAN dalam suasana kekeluargaan. Oleh sebab itu, dia lebih senang dianggap sebagai saudara dan abang, sehingga dirinya enggan dipanggil dengan sapaan yang terlalu tua.
“ Jadi aku berdiri di sini ya sebagai presiden, formalnya sebagai presiden, saya berdiri di sini sebagai saudaramu. Saya lebih senang dianggap sebagai saudaramu, sebagai abangmu. Jangan sebagai jangan sebagai eyangmu. Aku suka kalau kau panggil saya Bang Bowo,” kata Prabowo dalam kesempatan itu.
Prabowo juga sempat berkelakar jika dirinya dipanggil “Mbah Bowo” atau “Eyang Bowo” maka dirinya enggan kembali hadir di agenda PAN.
“Awas kalau lu manggil gue Mbah Bowo atau Eyang Bowo. Gue nggak bakal kembali ke PAN kalau panggil gue itu. Bang Bowo oke. Kang Kang Bowo oke. Orang Sunda, mana orang Sunda? Kang? Kang boleh. Yang yang yang lebih enak kalau dipanggil Mas Bowo itu aja. Awas ya lu panggil gue aki,” ucap Kepala Negara.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menekankan pentingnya menjaga nilai perjuangan, keberanian, ketabahan, dan kesetiaan dalam menjalankan perjuangan untuk bangsa dan negara.
Berangkat dari pengalamannya di lingkungan keprajuritan, Kepala Negara menyampaikan bahwa terdapat moto yang diajarkan oleh para senior kepada para prajurit. Moto tersebut menggambarkan pentingnya disiplin, kesetiaan, dan kehormatan dalam menjalankan tugas.
(azr/wep)



























