Logo Bloomberg Technoz

Lonjakan harga minyak di pasar menjadi sinyal betapa putus asanya para pengolah minyak di kawasan ini untuk mengamankan pasokan guna mempertahankan tingkat pengolahan kilang pada level yang cukup tinggi, demi meredakan krisis bahan bakar yang telah mendorong harga solar di kawasan tersebut melampaui US$200 per barel.

Pasokan minyak global mengalami pengetatan yang signifikan pada akhir musim panas seiring berlanjutnya gangguan aliran pasokan melalui Selat Hormuz, sementara beberapa strategi alternatif terbesar di pasar pada awal konflik mulai berbalik arah. 

Pembelian oleh China meningkat, sehingga menaikkan nilai barel minyak dari Timur Tengah, sementara pelepasan cadangan darurat melambat. Serangan terhadap pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi menjadi pukulan terbaru.

Negara tersebut berhasil terus mengekspor volume minyak yang signifikan sejak awal perang, ketika mereka dengan cepat meningkatkan ekspor melalui pipa lintas negara ke Laut Merah. Solusi tersebut membuatnya tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz dibandingkan sebagian besar negara tetangganya di kawasan tersebut. 

Namun, Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman melalui Selat Hormuz bulan ini dari level bulan Agustus, demikian dilaporkan Bloomberg pada 14 September, dan berupaya untuk lebih meningkatkan volume dari dalam Teluk Persia setelah serangan terhadap pipa tersebut.

Pipa minyak Timur-Barat memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari dan telah berperan penting dalam menjaga kelancaran pasokan ke pasar minyak global selama perang di Iran. Arab Saudi berupaya mengaktifkan kembali sekitar setengah dari kapasitas pipa tersebut dalam beberapa hari ke depan, demikian dikatakan seorang sumber yang mengetahui masalah ini pada awal pekan ini.

Aksi Borong

Meski pasar minyak di seluruh dunia tengah mengalami ketatnya pasokan, tekanan tersebut paling terasa di Eropa. Pada satu titik pekan ini, harga acuan Dated Brent melonjak di atas US$130 per barel untuk pertama kalinya sejak April, seiring demam pembelian yang mendorong harga semakin tinggi.

Melonjaknya biaya angkutan — pengiriman minyak mentah dari AS ke Asia menelan biaya US$26 per barel — juga berarti sebagian besar penyulingan mencari kargo yang tidak perlu menempuh jarak jauh. Hal ini semakin meningkatkan minat pembeli lokal terhadap minyak mentah Eropa.

Situasi pasokan di Eropa tampaknya bahkan lebih buruk daripada pada awal April, ketika konflik di Iran menyebabkan lonjakan harga minyak dan memicu perlombaan di antara kilang-kilang untuk mengamankan alternatif, kata para pedagang.

Pasokan yang tersedia di pasar sangat terbatas, dan penjual tidak memberikan ruang untuk negosiasi meskipun harga penawaran sudah tinggi, kata salah satu di antaranya.

Sebagai contoh paling jelas dari upaya panik mencari kargo pengganti, Orlen dari Polandia telah mengeluarkan lebih dari 10 tender sejak 11 September dalam upayanya mencari pasokan alternatif. Chief Executive Officer perusahaan tersebut mengatakan bahwa pihaknya mengetahui adanya empat pengiriman pada bulan September yang tidak akan tiba dan sedang secara aktif mencari pasokan alternatif.

Bahkan jenis minyak mentah yang kurang cocok sebagai pengganti langsung untuk kargo dari Timur Tengah pun harganya ikut melonjak.

Jenis minyak Norwegia lainnya, Johan Castberg, juga ditawarkan dengan premi lebih dari US$30, kata para pedagang. CPC Blend — minyak mentah yang jauh lebih ringan dan umumnya tidak dianggap sebagai pengganti yang mendekati jenis minyak dari Timur Tengah — ditawarkan sekitar US$9 di atas Dated Brent, dibandingkan dengan premi kurang dari US$1 per barel hanya seminggu yang lalu.

Harga minyak Brent turun tipis 0,9% dan ditutup di dekat US$104 per barel, menegaskankerugian tipis pada pekan ini.

(bbn)

No more pages