Posisi rupiah yang hanya menguat 0,03%, bahkan lebih rendah dari penguatan kala pembukaan 0,14% di Rp17.722/US$ menunjukkan sentimen positif regional belum sepenuhnya menopang penguatan rupiah secara agresif.
Memang, rupiah mendapat sokongan dari pasar obligasi Asia yang kembali menguat, termasuk pasar obligasi domestik. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun 1,9 bps ke 7,14%, begitu juga dengan yield obligasi Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Penurunan yield di pasar obligasi kawasan menunjukkan adanya permintaan terhadap aset pendapatan tetap Asia dan memberi ruang penguatan pada mata uang kawasan.
Ditambah, penurunan harga minyak mentah membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Brent bergerak di sekitar US$102,55/barel, sementara WTI turun 1,82% menjadi US$100,06/barel.
Namun, harga minyak yang masih berada di atas kisaran target asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih membayangi kondisi fiskal Indonesia. Ini menjadi faktor pemberat gerak rupiah.
Selain itu, laju rupiah juga dihadang oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat ke 100,29 pada 15:00 WIB. Kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) meningkatkan daya tarik aset dolar AS dan membuat investor cenderung selektif terhadap aset negara berkembang.
D samping itu, pelemahan yen hampir 1% setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25%. Keputusan BoJ yang tidak bulat dinilai pasar sebagai langkah separuh hawkish.
Dengan begitu, pekan ini laju rupiah mendapat tenaga dari kondisi eksternal yang mereda dengan turunnya harga minyak dan arus modal masuk ke pasar obligasi kawasan. Di sisi lain, penguatan dolar AS setelah The Fed hawkish menjadi pemberat laju rupiah.
Pekan depan, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September mendatang.
Sebagian ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 5,75%, lantaran pergerakan rupiah relatif stabil di rentang Rp17.650-17.750/US$.
(dsp/aji)






























